Nintendo Naikkan Gaji Karyawan 10% di Tengah Gelombang PHK Industri Game
Baca dalam 60 detik
- Nintendo mengumumkan kenaikan gaji pokok 10% untuk seluruh karyawan tetap di Jepang, efektif April 2026.
- Kebijakan ini kontras dengan tren industri game global yang justru diwarnai pemutusan hubungan kerja massal dan penutupan studio.
- Langkah Nintendo dinilai sebagai strategi mempertahankan talenta unggul di tengah persaingan ketat dan tekanan inflasi.

Di saat banyak perusahaan game global melakukan efisiensi dengan memangkas ribuan karyawan, Nintendo justru memilih jalan sebaliknya. Perusahaan asal Kyoto itu secara resmi mengumumkan kenaikan gaji pokok sebesar 10 persen untuk seluruh karyawan tetapnya di Jepang, sebuah langkah yang langsung menjadi sorotan di tengah industri yang tengah dilanda ketidakpastian.
Kenaikan gaji ini diumumkan langsung oleh Presiden Nintendo, Shuntaro Furukawa, dalam sesi tanya jawab dengan pemegang saham yang digelar pada akhir Juni 2026. Menurut Furukawa, keputusan tersebut diambil untuk memastikan kompensasi karyawan tetap kompetitif dan sejalan dengan standar industri. "Kami menjaga gaji pada level yang sesuai. Penting bagi kami untuk memastikan bahwa kompensasi tetap relevan dengan standar industri. Contohnya, kami telah menaikkan gaji, terutama dengan meningkatkan gaji pokok sebesar 10 persen," ujarnya dalam sesi yang ditranskrip oleh jurnalis yang hadir.
Kebijakan ini bukanlah yang pertama bagi Nintendo. Pada tahun 2023, perusahaan juga telah menaikkan gaji pokok sebesar 10 persen. Namun, pengumuman kali ini menegaskan komitmen berkelanjutan Nintendo terhadap kesejahteraan karyawannya, bahkan ketika banyak pesaing justru melakukan pemangkasan biaya tenaga kerja. Langkah ini menjadi angin segar di industri video game yang belakangan didominasi berita pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan penutupan studio.
Konteks industri yang suram membuat langkah Nintendo semakin menarik. Sepanjang 2025, lebih dari 10.000 pekerja game kehilangan pekerjaan di berbagai perusahaan besar, mulai dari pengembang hingga penerbit. Fenomena ini dipicu oleh tekanan biaya produksi yang meningkat, perubahan perilaku konsumen pascapandemi, serta fokus perusahaan pada profitabilitas jangka pendek. Di tengah situasi tersebut, Nintendo justru menunjukkan bahwa investasi pada sumber daya manusia tetap menjadi prioritas.
Bagi Indonesia, langkah Nintendo ini bisa menjadi pelajaran berharga. Industri game dalam negeri yang masih tumbuh, dengan potensi pasar yang besar, seringkali menghadapi tantangan retensi talenta akibat gaji yang kurang kompetitif. Keputusan Nintendo menegaskan bahwa menjaga kesejahteraan karyawan adalah kunci untuk mempertahankan inovasi dan daya saing jangka panjang. Apalagi, dengan semakin banyaknya perusahaan game global yang membuka studio di Asia Tenggara, persaingan untuk mendapatkan talenta terbaik semakin ketat.
Furukawa juga menekankan bahwa kenaikan gaji ini bukan sekadar respons terhadap inflasi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan talenta unggul. "Kami percaya bahwa mempertahankan talenta adalah investasi penting untuk masa depan perusahaan," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi perbedaan filosofi Nintendo dengan banyak perusahaan lain yang lebih memilih melakukan PHK untuk menekan biaya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah langkah Nintendo akan diikuti oleh perusahaan game besar lainnya, atau justru menjadi pengecualian di tengah tren industri yang masih lesu. Yang jelas, keputusan ini memperkuat posisi Nintendo sebagai salah satu perusahaan game yang paling stabil dan berorientasi pada karyawan di dunia.



