EMAS Catat Pendapatan Perdana US$2,6 Juta, Target Produksi 100.000-115.000 Ounce Emas di 2026
Baca dalam 60 detik
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) membukukan pendapatan US$2,6 juta pada kuartal I-2026 dari penjualan emas perdana, meski masih mencatat rugi bersih US$10,9 juta.
- Tambang Emas Pani memproduksi 1.818 ounce emas dan 3.500 ounce perak, dengan harga jual rata-rata emas US$5.123 per ounce, menghasilkan margin tunai US$3.921 per ounce.
- EMAS menargetkan produksi emas 100.000-115.000 ounce pada 2026, didukung penambahan sumber daya mineral dari prospek Kolokoa sebesar 445.000 ounce emas.

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengawali langkah sebagai produsen emas dengan mencatatkan pendapatan US$2,6 juta pada kuartal pertama 2026, setelah berhasil melakukan penjualan emas perdana pada Maret lalu. Meskipun pendapatan baru mengalir, emiten tambang emas ini masih menanggung rugi bersih setelah kepentingan minoritas sebesar US$10,9 juta, dengan EBITDA negatif US$1 juta.
Presiden Direktur EMAS Boyke P. Abidin menilai kinerja keuangan tersebut wajar bagi operasi tambang yang baru memasuki tahap produksi. Menurutnya, kontribusi penjualan baru tercatat sebagian pada kuartal berjalan, sementara beban keuangan dari fasilitas kredit bergulir masih membebani. Namun, seiring peningkatan volume produksi secara bertahap dalam fase ramp-up, EMAS optimistis kinerja keuangan akan membaik pada kuartal-kuartal berikutnya.
Tambang Emas Pani, proyek unggulan EMAS, berhasil melakukan penuangan emas perdana (first gold pour) pada Februari 2026 dan menyelesaikan penjualan emas pertama pada Maret 2026. Sepanjang kuartal I, Pani memproduksi 1.818 ounce emas dan 3.500 ounce perak, dengan penjualan emas perdana sebanyak 516 ounce. Boyke menyebut capaian ini sebagai fondasi penting bagi transisi EMAS menjadi perusahaan produsen emas dan landasan bagi fase ramp-up ke depan.
Harga emas yang mendukung sepanjang kuartal menjadi faktor pendorong. Dengan harga jual rata-rata US$5.123 per ounce, biaya tunai tercatat US$969 per ounce di luar royalti, atau US$1.202 per ounce termasuk royalti. Alhasil, margin tunai mencapai US$3.921 per ounce pada fase awal ramp-up. Namun, all-in sustaining cost (AISC) masih tinggi, yakni US$4.463 per ounce di luar royalti, atau US$4.696 per ounce termasuk royalti. Boyke menjelaskan tingginya AISC mencerminkan tahap awal produksi, ketika biaya sustaining dan pengeluaran terkait ramp-up masih diserap oleh basis produksi yang terbatas. EMAS memperkirakan biaya per unit akan berangsur normal seiring peningkatan volume produksi.
EMAS optimistis mencapai target produksi 100.000 hingga 115.000 ounce emas pada 2026, sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui. Panduan biaya tunai berada pada kisaran US$900 hingga US$1.100 per ounce, sementara panduan AISC pada kisaran US$1.300 hingga US$1.450 per ounce, keduanya di luar royalti dan kredit perak. Produksi perak sebagai produk sampingan diperkirakan mencapai 100.000 hingga 200.000 ounce pada 2026.
Setelah kuartal I, EMAS mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana untuk prospek Kolokoa sebesar 42 juta ton dengan kadar 0,33 gram per ton emas, mengandung sekitar 445.000 ounce emas. Tambahan ini meningkatkan total inventaris sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari 7,0 juta ounce menjadi sekitar 7,4 juta ounce emas, atau naik sekitar 6%. Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menegaskan potensi jangka panjang EMAS sebagai salah satu pemain tambang emas primer signifikan di Asia, dengan akses ke pasar modal domestik dan internasional.
Ke depan, EMAS akan fokus pada peningkatan produksi secara aman dan disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan kapasitas pengolahan secara bertahap. Dengan produksi perdana yang telah tercapai, panduan produksi yang jelas, dan peningkatan sumber daya mineral, EMAS berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai jangka panjang. Pertanyaannya, mampukah EMAS mempertahankan momentum pertumbuhan produksi di tengah fluktuasi harga emas global dan tantangan operasional di lapangan?



