Duel Chanel vs Dior: Perebutan Pasar Mewah di Tengah Lesunya Industri
Baca dalam 60 detik
- Koleksi perdana Matthieu Blazy di Chanel langsung memicu antrean dan viral di media sosial, mendorong pertumbuhan penjualan yang melampaui rata-rata industri.
- Dior di bawah arahan Jonathan Anderson memilih pendekatan jangka panjang dengan merombak lini produk secara bertahap, meskipun penjualan divisi LVMH masih terkontraksi.
- Persaingan ketat ini berlangsung di tengah perlambatan industri mewah global, mendorong kedua rumah mode untuk saling 'memangsa' pangsa pasar.

Gelombang 'Blazy mania' yang melanda Chanel sejak Maret lalu telah mengubah peta persaingan industri barang mewah, menempatkan Dior di bawah tekanan untuk membuktikan bahwa strategi transformasi bertahap tetap relevan di tengah pasar yang kian sempit.
Koleksi debut Matthieu Blazy untuk Chanel langsung menjadi fenomena. Sepatu hak โฌ1.300 dan tas kulit sapi seharga โฌ9.000 ludes diburu, dengan antrean panjang di butik New York dan Paris. Video unboxing membanjiri media sosial, menciptakan buzz yang langka di industri yang tengah lesu. Chanel melaporkan pertumbuhan penjualan satu digit tinggi pada 2026, jauh di atas perkiraan pertumbuhan industri sebesar 2,5 persen versi Morgan Stanley. Jika tren ini berlanjut, Chanel bisa menyerap sekitar 30 persen dari total pertumbuhan industri fesyen dan barang kulit tahun ini.
Di sisi lain, Dior yang juga berganti direktur kreatif dengan menunjuk Jonathan Anderson pada tahun lalu, belum menuai hasil instan. Divisi fesyen dan barang kulit LVMHโyang menaungi Diorโmencatat kontraksi 2 persen pada kuartal pertama. Analis Berenberg, Nick Anderson, menilai lambatnya pemulihan Dior tak lepas dari 'kesuksesan luar biasa Chanel'. Namun, CEO Dior Delphine Arnault menegaskan bahwa transformasi besar membutuhkan waktu. "Setiap kali berganti direktur artistik, itu adalah perubahan besar. Kami berusaha mempertahankan kreatif selama mungkin," ujarnya.
Anderson, yang untuk pertama kalinya sejak Christian Dior memegang kendali penuh atas koleksi pria, wanita, dan couture, memadukan warisan rumah mode dengan sentuhan playful. Jaket bar berpotongan lebih rendah dan gaun balon menjadi ciri khasnya. Meski penjualan tas tangan Dior dilaporkan meningkat pada Mei-Juni, analis HSBC memperkirakan pertumbuhan baru akan terlihat signifikan pada kuartal kedua saat lebih banyak produk Anderson masuk ke toko. Anderson sendiri meminta kesabaran: "Dunia internet ingin Anda membalikkan bisnis dalam semalam. Tapi segala sesuatu butuh waktu."
Konteks Indonesia: Persaingan ini relevan bagi pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang menjadi salah satu target ekspansi rumah mode mewah. Konsumen Indonesia yang semakin sadar merek dan daya beli kelas menengah atas yang tumbuh membuat strategi harga dan koleksi kedua brand patut dicermati. Kenaikan harga rata-rata 10-19 persen pada produk anyar bisa memengaruhi daya tarik di pasar yang sensitif harga seperti Indonesia, di mana barang mewah kerap menjadi simbol status.
Konsultan Luxurynsight, Jonathan Siboni, membandingkan pendekatan kedua desainer: Blazy mengutamakan keinginan instan dan kejelasan produk, sementara Anderson lebih fokus pada penyempurnaan konsep. "Satu pendekatan menciptakan lebih banyak percakapan, yang lain mendorong lalu lintas ke butik secara langsung," jelasnya. Di tengah pertumbuhan industri yang tipis, persaingan ini menjadi zero-sum game. Jean Revis dari konsultan MAD menegaskan, "Dulu Anda bisa menarik klien tanpa mengganggu tetangga. Sekarang, Anda harus memangsa dari yang lain."
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan unggul, tetapi apakah strategi jangka panjang Dior mampu mengejar momentum Chanel sebelum pasar benar-benar jenuh.



