Nubank Cetak Rekor Laba US$1,06 Miliar, Saham Melonjak 9,5%
Baca dalam 60 detik
- Laba bersih Nubank melampaui US$1 miliar untuk pertama kalinya, didorong pendapatan dan margin bunga yang membaik.
- Saham perusahaan melonjak 9,5% di perdagangan lanjutan setelah hasil kuartal II mengalahkan estimasi analis.
- Kinerja ini menegaskan daya tahan model bisnis bank digital di tengah ekspansi regional dan persiapan masuk pasar AS.

Bank digital asal Brasil, Nubank, mencatatkan laba bersih kuartalan di atas US$1 miliar untuk pertama kalinya. Capaian ini melampaui perkiraan analis dan mendorong harga sahamnya melonjak sekitar 9,5% dalam perdagangan setelah jam bursa, Kamis (13/8) waktu setempat.
Entitas yang menaungi Nubank, Nu Holdings, membukukan laba bersih US$1,06 miliar pada periode AprilโJuni. Angka ini naik 49% secara tahunan dengan basis netral nilai tukar, sekaligus lebih tinggi dari estimasi Visible Alpha yang sebesar US$967,2 juta. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 39% menjadi US$5,88 miliar, melampaui proyeksi US$5,60 miliar.
Kinerja impresif ini ditopang oleh pendapatan yang lebih tinggi dan perbaikan margin bunga bersih yang disesuaikan risiko (risk-adjusted net interest margin/NIM). CFO Nubank, Rob Livingston, yang baru menjabat sebulan lalu, menyebut tingkat NIM saat ini sebesar 12,4% โ naik dari 9,9% tahun sebelumnya โ masih berkelanjutan dalam waktu dekat. Analis JPMorgan menilai hasil ini sebagai kejutan positif bahkan bagi investor yang sebelumnya optimistis, karena mereka memperkirakan NIM sekitar 11%.
Di sisi lain, biaya kredit Nubank turun menjadi US$1,69 miliar dari US$1,79 miliar pada kuartal sebelumnya, meski masih 60% lebih tinggi dibanding tahun lalu. Penurunan ini sebagian terbantu oleh program refinancing utang Brasil, Desenrola, yang diluncurkan tahun ini. Namun, Livingston menegaskan perbaikan tetap terjadi tanpa program tersebut, karena faktor musiman dan kontribusi Desenrola hanya sekitar 5% dari total biaya kredit.
Portofolio kredit Nubank mencapai US$39,4 miliar, tumbuh 37% secara tahunan dan 5% kuartal ke kuartal. Meski pertumbuhan sedikit melambat dibanding kuartal pertama, Livingston menilai hal ini wajar setelah ekspansi yang sangat kuat sebelumnya. Rasio kredit macet awal (early delinquency) berada di 4,8%, naik tipis 0,3 poin persentase secara tahunan, tetapi turun dari 5% pada kuartal sebelumnya.
Bagi pasar Indonesia, pencapaian Nubank menjadi cermin potensi bank digital di kawasan berkembang. Dengan basis nasabah hampir 139 juta di Brasil, Meksiko, dan Kolombia, serta rencana ekspansi ke Amerika Serikat, Nubank membuktikan bahwa model bisnis digital dapat mencapai profitabilitas tinggi. Hal ini relevan bagi pemain fintech dan perbankan di Indonesia yang tengah berupaya menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan manajemen risiko.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Nubank mampu mempertahankan momentum ini saat memasuki pasar AS yang kompetitif dan saat suku bunga global mulai berubah. Keberhasilan Nubank akan menjadi tolok ukur bagi bank digital lain di emerging market, termasuk Indonesia, dalam menavigasi ekspansi tanpa mengorbankan kualitas aset.



