Konglomerat Terbesar Filipina Rombak Bisnis Tambang: Dominion Holdings Siap Jadi Raja Mineral Baru
Baca dalam 60 detik
- SM Investments, milik keluarga Henry Sy, akan memindahkan 34% saham Atlas ke Dominion Holdings, membuka jalan konsolidasi tambang terbesar di Filipina.
- Tambang Tampakan, dengan produksi tahunan 375.000 ton tembaga dan 360.000 ons emas, berpotensi masuk Dominion dan menjadikannya perusahaan tambang tercatat terbesar di negara itu.
- Saham Dominion melonjak 821% tahun ini, mencerminkan optimisme pasar terhadap rencana merger yang dapat menghidupkan kembali industri pertambangan Filipina yang lesu.

Keluarga terkaya di Filipina, yang dikenal melalui imperium SM Investments Corp, tengah menyusun langkah konsolidasi aset pertambangan mereka di bawah satu payung perusahaan tercatat. Rencana ini berpotensi melahirkan perusahaan tambang terbesar di Filipina, dengan tambang emas dan tembaga raksasa Tampakan sebagai pusatnya.
SM Investments, yang dimiliki oleh keluarga mendiang miliarder Henry Sy, akan mengalihkan 34% kepemilikan sahamnya di Atlas Consolidated Mining and Development Corp kepada Dominion Holdings Inc. pada tahun depan. Langkah ini diumumkan langsung oleh Presiden dan CEO SM, Frederic DyBuncio, yang juga menjabat sebagai pimpinan Dominion. Menurut DyBuncio, tambang Tampakan yang mayoritas sahamnya juga dimiliki keluarga tersebut, dapat dimasukkan ke dalam Dominion, menjadikannya entitas tambang tercatat dengan kapitalisasi pasar terbesar di Filipina.
Tambang Tampakan, yang terletak di Pulau Mindanao bagian selatan, dijadwalkan memulai produksi pada 2028, lebih lambat dari target awal 2026. Proyek ini diperkirakan mampu memproduksi rata-rata 375.000 ton tembaga dan 360.000 ons emas per tahun dalam bentuk konsentrat selama 17 tahun. Namun, perjalanan proyek ini tidak mulus. Ditemukan tiga dekade lalu, pengembangannya sempat terhambat oleh berbagai kendala regulasi, termasuk larangan penambangan terbuka yang baru dicabut pada 2021. Glencore, raksasa tambang global, bahkan mundur pada 2015 di tengah kekhawatiran regulator.
Kabar rencana merger ini telah melambungkan harga saham Dominion, yang sebelumnya hanya perusahaan leasing kecil milik BDO Unibank, anak usaha SM. Sahamnya melonjak 821% tahun ini, jauh melampaui kenaikan indeks saham acuan Filipina yang hanya 5,2%. Lonjakan ini mencerminkan harapan pasar bahwa konsolidasi akan menciptakan pemain dominan yang mampu menggarap potensi mineral yang selama ini terbengkalai.
Bagi industri pertambangan Filipina, langkah ini dianggap sebagai angin segar. Selama bertahun-tahun, sektor ini terhambat oleh minimnya eksplorasi akibat penolakan dari komunitas lokal, aktivis lingkungan, dan pengaruh kuat Gereja Katolik. Tampakan sendiri menjadi simbol dari potensi besar yang belum tergarap. DyBuncio optimistis operasi Tampakan dapat dimulai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dengan pembangunan jalan akses yang sudah berjalan. Ia juga menegaskan bahwa perusahaan tidak membutuhkan mitra asing untuk menggarap proyek ini.
Konsolidasi ini juga menarik perhatian bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan industri pertambangan yang lebih matang, Indonesia dapat melihat bagaimana Filipina berupaya menggenjot sektor mineralnya melalui konsolidasi korporasi. Langkah SM Investments menunjukkan bahwa konsolidasi aset dapat menjadi strategi efektif untuk menarik investasi dan mengatasi hambatan regulasi. Namun, keberhasilan Tampakan akan menjadi ujian apakah model ini mampu mengatasi resistensi sosial dan lingkungan yang selama ini menjadi momok.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Dominion akan mengelola tambang Tampakan yang memiliki sensitivitas lingkungan tinggi, serta apakah konsolidasi ini akan memicu gelombang merger serupa di industri tambang Filipina. Dengan kapasitas produksi yang besar, Tampakan berpotensi mengubah peta pasokan tembaga dan emas di Asia, sekaligus menjadi barometer bagi investasi tambang di kawasan.



