Kospi Ambruk 8% di Tengah Aksi Jual Saham Teknologi Global, Investor Indonesia Wajib Waspada
Baca dalam 60 detik
- Indeks Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 8% pada Kamis (2/7/2026) dipicu kejatuhan saham Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing merosot 9% dan 14,6%.
- Kekhawatiran overvaluasi sektor semikonduktor global memicu aksi jual massal yang merembet ke bursa Asia lainnya, termasuk Hong Kong dan Tiongkok, dengan saham SMIC turun 11%.
- Di tengah tekanan, SK Hynix mengumumkan investasi raksasa Rp1.200 triliun untuk ekspansi pabrik chip dan pusat data AI, sementara ADR-nya akan listing di Nasdaq pekan depan.

Indeks acuan bursa Korea Selatan, Kospi, mengalami kejatuhan paling tajam dalam lebih dari satu dekade setelah saham-saham teknologi unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix ambruk pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Penurunan ini tidak hanya mengguncang pasar domestik Korea, tetapi juga mengirimkan gelombang kekhawatiran ke seluruh ekosistem semikonduktor Asia, termasuk Indonesia yang bergantung pada pasokan chip global.
Samsung Electronics ditutup merosot 9,06% ke level 286.000 won, sementara SK Hynix terperosok 14,57% menjadi 2.187.000 won. Kedua raksasa chip ini kini menyumbang hampir setengah dari total bobot Kospi, naik signifikan dari sekitar seperempat pada akhir tahun lalu. "Pergerakan tajam pada salah satu saham tersebut akan menyeret seluruh indeks bersamanya sebelum sekitar sembilan ratus perusahaan terdaftar lainnya sempat memberikan pengaruh," ujar Zavier Wong, analis pasar di eToro, dalam catatan risetnya.
Aksi jual di Seoul merupakan kelanjutan dari tekanan di Wall Street sehari sebelumnya, di mana Nasdaq Composite merosot tajam. Saham Micron Technology ambruk lebih dari 10% meski telah mencatat kenaikan 260% sejak awal tahun, sementara Sandisk juga turun lebih dari 10%. Nvidia dan Broadcom ikut tertekan dengan penurunan antara 1% hingga 2%. Kondisi ini memicu aksi jual berantai di kawasan Asia: indeks saham teknologi Hong Kong dan Tiongkok ikut babak belur. Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) yang terdaftar di Hong Kong anjlok lebih dari 11%, Hua Hong Grace merosot 14%, Knowledge Atlas Technology terperosok 17%, dan Shanghai Iluvatar CoreX Semiconductor ambruk hampir 18%.
Di tengah kepanikan pasar, CEO SK Hynix Kwak Noh-jung justru mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran. Perusahaan akan menggelontorkan 80 triliun won untuk membangun pabrik fabrikasi M17 yang memproduksi memori flash NAND, dan 20 triliun won untuk fasilitas P&T7 guna memperluas teknologi pengemasan chip canggih. "Investasi ini bertujuan memenuhi lonjakan permintaan server HBM dan DRAM, serta SSD dan NAND korporat, seiring berkembangnya layanan AI," jelas Kwak dalam konferensi pers di Asan. SK Group, induk usaha SK Hynix, juga berencana membangun pusat data AI dengan kapasitas awal 5 GW yang akan ditingkatkan hingga 15 GW.
Bagi Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok semikonduktor nasional. Sebagai negara pengimpor chip terbesar di ASEAN, Indonesia sangat bergantung pada pasokan dari Korea Selatan dan Tiongkok. Tekanan di sektor ini berpotensi memperlambat produksi perangkat elektronik, otomotif, dan infrastruktur telekomunikasi dalam negeri. Investor Indonesia yang memiliki eksposur ke saham teknologi global atau reksa dana berbasis semikonduktor juga patut mencermati risiko koreksi lanjutan.
Pemerintah Korea Selatan sendiri baru saja mengumumkan inisiatif investasi nasional senilai 800 triliun won yang melibatkan Samsung dan SK Hynix untuk memperkuat ekosistem semikonduktor. Namun, sentimen pasar saat ini masih dibayangi kekhawatiran overvaluasi dan perlambatan permintaan chip akibat normalisasi belanja AI. Dengan SK Hynix yang akan mencatatkan ADR di Nasdaq pada 10 Juli mendatang, pertanyaan besarnya adalah: akankah aksi jual ini hanya koreksi sementara, atau awal dari siklus bearish sektor teknologi yang lebih panjang?



