Gen Z Jadi Target Baru, Bisnis Emas Kian Mengkilap
Baca dalam 60 detik
- Permintaan emas sebagai aset safe haven meningkat di tengah ketidakpastian global, mendorong ekspansi bisnis toko emas di Indonesia.
- Raja Emas Indonesia telah bertumbuh dari 0 menjadi 77 toko sejak 2020, dengan strategi mengincar investor muda melalui layanan transparan dan teknologi XRF.
- Langkah perusahaan menjual logam mulia bermerek sendiri menjadi sinyal perubahan preferensi investasi generasi milenial dan Gen Z.

Bisnis emas di Indonesia tengah memasuki babak baru: bukan lagi sekadar mengandalkan pembeli tradisional, melainkan mulai merambah generasi muda yang haus akan instrumen investasi yang aman dan likuid. Di tengah gejolak ekonomi global yang belum mereda, emas tetap menjadi primadona sebagai aset lindung nilai, dan peluang itu dimanfaatkan oleh para pemain lokal untuk memperluas jangkauan pasar.
Salah satu yang bergerak cepat adalah Raja Emas Indonesia. Dalam kurun enam tahun sejak berdiri pada 2020, perusahaan ini telah membuka 77 gerai di seluruh Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap emas tidak hanya bertahan, tetapi justru menguat. Menurut Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat, lonjakan permintaan emas menjadi momentum bagi perusahaannya untuk terus berekspansi.
Strategi yang diusung pun berbeda dari toko emas konvensional. Raja Emas mengklaim sebagai spesialis pembeli semua jenis emasโbaik logam mulia maupun perhiasanโdengan mengedepankan transparansi. Mereka menggunakan teknologi X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menguji kadar emas secara akurat di hadapan pelanggan. Langkah ini diharapkan dapat membangun kepercayaan, terutama di kalangan investor muda yang mungkin baru pertama kali bertransaksi emas.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan perilaku investasi generasi muda. Di era digital, Gen Z dan milenial cenderung mencari instrumen yang mudah dipahami, likuid, dan tidak terlalu fluktuatif seperti kripto. Emas, dengan sejarahnya sebagai penyimpan nilai yang stabil, menjadi alternatif menarik. Raja Emas tampaknya membaca celah ini dengan meluncurkan produk logam mulia bermerek sendiri yang dikhususkan untuk investasi.
Langkah ini juga relevan dengan kondisi domestik. Indonesia memiliki basis konsumen emas yang besar, namun selama ini didominasi oleh pembelian perhiasan untuk kebutuhan konsumtif. Dengan mengedukasi generasi muda tentang emas sebagai aset investasi, Raja Emas berpotensi menciptakan pasar baru yang lebih luas. Apalagi, harga emas yang cenderung naik dalam jangka panjang membuatnya semakin diminati sebagai alat diversifikasi portofolio.
Ke depan, persaingan di bisnis emas ritel diprediksi akan semakin ketat. Pemain seperti Raja Emas tidak hanya bersaing dengan toko emas tradisional, tetapi juga dengan platform digital yang menawarkan emas batangan secara online. Pertanyaannya, apakah strategi ekspansi fisik dan penjualan merek sendiri cukup untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah gempuran fintech dan perubahan kebiasaan konsumen yang kian digital?



