Mimpi Skotlandia Menggaet Moyes atau Postecoglou: Antara Ambisi dan Realitas Finansial
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) membuka perburuan pelatih kepala baru setelah Steve Clarke mundur pasca-gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
- Nama David Moyes (Everton) dan Ange Postecoglou (tanpa klub) menjadi favorit suporter, namun gaji Premier League yang mencapai miliaran rupiah per tahun menjadi tembok besar.
- Dengan anggaran terbatas, SFA harus memilih antara ambisi mendatangkan nama besar atau realistis merekrut pelatih dari level yang lebih rendah seperti saat merekrut Clarke dari Kilmarnock.

Kepergian Steve Clarke dari kursi pelatih tim nasional Skotlandia membuka babak baru perburuan pelatih, namun impian suporter untuk mendatangkan manajer sekelas David Moyes atau Ange Postecoglou terbentur realitas pahit: kocek Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) yang tak sebanding dengan gemerlap Premier League.
Clarke, yang membawa Skotlandia ke tiga turnamen besar berturut-turut โ prestasi terbaik dalam sejarah sepak bola pria Skotlandia โ memutuskan mundur setelah gagal melaju ke Piala Dunia 2026. Keputusan itu disebutnya sebagai langkah yang 'mudah' secara pribadi, namun meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi SFA: mencari pengganti yang mampu mempertahankan standar yang telah dinaikkan.
Nama Moyes dan Postecoglou langsung mencuat di media sosial dan grup diskusi suporter. Moyes, manajer asal Skotlandia yang kini menukangi Everton, pernah menyatakan ketertarikannya menangani timnas pada 2021 silam. Sementara Postecoglou, pelatih Australia yang sukses di Celtic dan sempat menangani Tottenham, tengah menganggur setelah dipecat Nottingham Forest hanya dalam 39 hari.
Namun, seperti diungkapkan mantan striker Skotlandia Kris Boyd, "Kami tidak sebodoh itu untuk berpikir Premier League tidak membayar gaji tinggi. Suatu hari nanti Moyes akan menjadi manajer Skotlandia, tapi sekarang dia manajer Everton dengan gaji besar. SFA tidak akan bisa bersaing." Pernyataan itu menegaskan jurang finansial yang sulit dijembatani.
Postecoglou, meski sedang menganggur, memiliki tuntutan gaji yang tak kalah tinggi. Pengalamannya menangani Australia โ termasuk lolos ke Piala Dunia 2014 dan juara Piala Asia 2015 โ serta gaya sepak bola menyerang yang ia terapkan di Celtic membuatnya menjadi kandidat ideal secara taktik. Namun, dengan standar gaji Premier League, SFA harus berpikir ulang.
Konteks ini mengingatkan pada situasi di Indonesia, di mana Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) juga kerap kesulitan mendatangkan pelatih top Eropa karena keterbatasan anggaran. Shin Tae-yong, misalnya, datang dengan gaji yang jauh di bawah standar pelatih Korea Selatan atau Jepang. Perbandingan ini menunjukkan bahwa federasi sepak bola negara dengan ekonomi lebih kecil harus pintar-pintar memilih: antara mengejar nama besar yang mungkin hanya tinggal mimpi, atau merekrut pelatih potensial dari liga domestik atau regional.
Clarke sendiri direkrut dari Kilmarnock, klub Liga Primer Skotlandia, bukan dari Premier League. Artinya, SFA sejak awal sudah terbiasa 'memancing di kolam kecil'. Kini, setelah Clarke membuktikan diri sebagai pelatih tersukses, tekanan untuk mempertahankan prestasi justru membuat perburuan semakin rumit.
Ke depan, SFA harus menjawab pertanyaan mendasar: seberapa ambisius mereka? Apakah akan mencoba pendekatan diplomatis untuk meyakinkan Moyes atau Postecoglou dengan proyek jangka panjang, atau kembali ke jalur realistis dengan merekrut pelatih dari skala gaji yang lebih terjangkau? Keputusan dalam beberapa pekan mendatang akan menentukan apakah Skotlandia bisa terus bersaing di panggung internasional atau justru kembali ke masa kelam.



