Gelombang PHK di Ubisoft Barcelona Picu Aksi Mogok Massal
Baca dalam 60 detik
- Ubisoft Barcelona memangkas 51 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi global, memicu aksi mogok tiga pekan mulai 30 Juni 2026.
- Tuntutan karyawan mencakup pembatalan PHK, kepatuhan pada promosi, sistem kerja hibrida 60% remote, dan revisi skala gaji.
- Krisis ini menambah daftar panjang tekanan di industri gim global, termasuk dampak tidak langsung pada pasar dan talenta Indonesia.

Ubisoft Barcelona menjadi pusaran konflik baru setelah manajemen memutuskan memangkas 51 posisi di studio tersebut. Langkah ini memicu gelombang protes dari karyawan yang mengumumkan aksi mogok parsial selama tiga pekan, dari 30 Juni hingga 17 Juli 2026.
Keputusan PHK itu merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang tengah dijalankan Ubisoft secara global. Perusahaan asal Prancis itu berupaya menekan biaya operasional di tengah tekanan finansial yang berkepanjangan, termasuk penutupan sejumlah studio dan pengurangan tenaga kerja di berbagai wilayah.
Para pekerja di Barcelona tidak tinggal diam. Mereka mendesak manajemen untuk membuka negosiasi segera guna mempertahankan pekerjaan yang terancam. Selain itu, tuntutan lain mencakup kepatuhan terhadap perjanjian promosi dan pengembangan karier yang sudah ada, pemulihan model kerja hibrida dengan komposisi 60 persen bekerja dari rumah dan 40 persen di kantor, serta revisi skala upah yang dinilai tidak lagi kompetitif.
Konteks Indonesia: Gelombang PHK di industri gim global, termasuk di Ubisoft, menjadi peringatan bagi ekosistem pengembangan gim di Indonesia. Banyak talenta lokal yang bekerja secara remote untuk perusahaan asing, termasuk Ubisoft, melalui skema kontrak. Jika tren efisiensi ini berlanjut, pekerja gim Indonesia juga berpotensi terkena dampak, terutama yang bergantung pada proyek outsourcing. Di sisi lain, situasi ini bisa menjadi peluang bagi studio lokal untuk menarik talenta berpengalaman yang terdampak PHK di luar negeri.
Menurut analis industri, aksi mogok ini mencerminkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan pekerja kreatif terhadap kebijakan perusahaan yang dinilai mengabaikan kesejahteraan jangka panjang. Ubisoft sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan para pekerja. Langkah perusahaan ke depan akan menjadi ujian kredibilitas dalam mengelola sumber daya manusia di tengah tekanan pasar.
Ke depan, apakah Ubisoft akan merespons tuntutan pekerja dengan negosiasi substansial atau justru memperkeras sikap? Hasil mogok tiga pekan ini bisa menjadi preseden bagi hubungan industrial di sektor gim global, termasuk bagaimana perusahaan multinasional memperlakukan tenaga kerja kreatif di era efisiensi.



