Fujifilm Hidupkan Kembali Kamera Sekali Pakai QuickSnap Setelah 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Fujifilm meluncurkan dua model baru kamera sekali pakai QuickSnap, yaitu Active (tahan air) dan Black and White (film hitam-putih), setelah jeda dua dekade.
- Langkah ini merespons tren retro di kalangan generasi muda yang mulai jenuh dengan fotografi smartphone dan mencari pengalaman analog yang autentik.
- Penjualan kamera QuickSnap global mulai pulih sejak 2021, dengan total lebih dari 1,7 miliar unit terjual sepanjang sejarahnya.

Fujifilm kembali meramaikan pasar fotografi analog dengan meluncurkan dua model baru kamera sekali pakai QuickSnap, menandai pertama kalinya dalam 20 tahun perusahaan asal Jepang itu memperbarui lini produk legendarisnya. Langkah ini diambil di tengah kebangkitan minat generasi muda terhadap pengalaman fotografi klasik yang tidak bisa ditiru oleh kamera ponsel pintar.
Dua varian terbaru yang diperkenalkan adalah Active, kamera tahan air yang mampu beroperasi hingga kedalaman 10 meter, dan Black and White yang menggunakan film hitam-putih untuk menghasilkan efek monokrom artistik. Active akan tersedia mulai awal Agustus dengan harga sekitar 4.480 yen (Rp 480.000), sedangkan Black and White menyusul pada September dengan banderol 4.300 yen (Rp 460.000). Peluncuran ini bertepatan dengan peringatan 40 tahun seri QuickSnap yang di Jepang dikenal dengan nama Utsurundesu.
Keputusan Fujifilm menghidupkan kembali produk yang sempat meredup ini bukan tanpa alasan. Setelah mencapai puncak penjualan pada 1997, kamera sekali pakai terus tertekan oleh maraknya kamera digital dan ponsel berkamera. Namun, sejak 2021 grafik penjualan mulai menunjukkan pemulihan. Hingga saat ini, lebih dari 1,7 miliar unit QuickSnap telah terjual di seluruh dunia, menjadikannya salah satu produk kamera paling laris sepanjang masa.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Di era digital yang serba instan, kamera sekali pakai justru menawarkan sensasi berbeda: ketidakpastian hasil jepretan hingga film dicetak. "Yang dihargai adalah pengalamannya, bukan fungsi kameranya," ujar Ryuichiro Takai, perwakilan Divisi Solusi Pencitraan Fujifilm. Pernyataan ini menegaskan bahwa nostalgia dan proses kreatif menjadi daya tarik utama, bukan sekadar spesifikasi teknis.
Di Indonesia, tren kamera film juga mulai merebak, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Komunitas pecinta film fotografi tumbuh subur, dan jasa cuci cetak film kembali menjamur. Meskipun Fujifilm belum secara resmi mengumumkan ketersediaan model baru QuickSnap di Indonesia, pasar domestik berpotensi menjadi salah satu sasaran ekspansi mengingat besarnya basis penggemar fotografi analog di Tanah Air. Harga yang relatif terjangkau dibandingkan kamera film konvensional juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen lokal.
Langkah Fujifilm ini juga menjadi sinyal bahwa industri fotografi analog masih memiliki ruang bertahan di tengah dominasi teknologi digital. Pertanyaannya, apakah kebangkitan ini hanya sekadar gelombang nostalgia sesaat, atau akan menjadi tren jangka panjang yang mampu mengubah peta industri fotografi global? Jawabannya mungkin akan terlihat dari respons pasar terhadap dua model anyar QuickSnap dalam beberapa bulan ke depan.



