Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup, Status Siaga Belum Dicabut
Baca dalam 60 detik
- Balai TNGM menegaskan larangan pendakian Gunung Merapi masih berlaku menyusul status Siaga (Level III) yang bertahan sejak November 2020.
- Aktivitas vulkanik tinggi dengan suplai magma berkelanjutan berpotensi memicu guguran lava dan awan panas hingga radius 7 kilometer.
- Masyarakat diimbau tidak terpancing konten viral yang mengajak pendakian, dan dapat beralih ke jalur soft trekking aman di Kalitalang.

Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) memastikan seluruh jalur pendakian gunung berapi paling aktif di Indonesia itu masih ditutup untuk umum, menyusul status Siaga (Level III) yang belum juga diturunkan. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian dan ajakan untuk mendaki, yang dinilai menyesatkan dan membahayakan keselamatan.
Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menjelaskan bahwa larangan pendakian sejatinya telah diberlakukan sejak 22 Mei 2018, ketika status Merapi naik dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II). Dua tahun kemudian, tepatnya 5 November 2020, status kembali dinaikkan menjadi Siaga (Level III) dan hingga kini belum ada perubahan. โKegiatan pendakian untuk sementara tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian terkait mitigasi bencana,โ ujar Heri dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode 19โ25 Juni 2026, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan erupsi efusif yang terus berlangsung. Suplai magma dari kedalaman ke permukaan masih aktif, sehingga sewaktu-waktu dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran yang meluncur mengikuti alur sungai di lereng gunung.
Potensi bahaya saat ini terkonsentrasi di sektor selatan-barat daya, meliputi aliran Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal 5 kilometer dari puncak. Sementara di alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, material vulkanik dapat meluncur hingga 7 kilometer. Di sektor tenggara, ancaman mencakup Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km). Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran batu pijar diperkirakan menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Yang menjadi perhatian, jalur pendakian populer melalui New Selo menuju puncak justru berada di dalam kawasan rawan tersebut. Titik-titik seperti pintu gerbang hingga Pos I (2,3 km dari puncak), Pos II (1,64 km), dan Pasar Bubrah (0,7 km) semuanya berada dalam zona yang berpotensi terdampak lontaran material vulkanik maupun awan panas. โSeluruh titik tersebut sangat membahayakan keselamatan pendaki,โ tegas Heri.
Balai TNGM juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. โMasyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG,โ imbau Heri.
Sebagai alternatif, Balai TNGM menawarkan jalur wisata soft trekking di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, seperti Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang yang berada di luar radius bahaya, sekitar 3,3 kilometer dari Pos IV. Heri menegaskan bahwa penutupan jalur pendakian dilakukan semata-mata untuk mematuhi rekomendasi instansi teknis dan menjamin keselamatan semua pihak. Hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, pendakian Gunung Merapi masih ditutup.
Keputusan ini menimbulkan pertanyaan: akankah status Siaga segera diturunkan jika aktivitas vulkanik mereda, atau justru akan bertahan dalam jangka panjang mengingat karakteristik Merapi yang kerap mengalami erupsi efusif berkepanjangan? Yang jelas, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.



