Kerangka di Bawah Gereja Maastricht: D'Artagnan atau Bukan?
Baca dalam 60 detik
- Kerangka pria yang ditemukan di bawah Gereja St Peter and Paul di Maastricht belum bisa dipastikan sebagai jenazah d'Artagnan, tokoh nyata di balik novel 'The Three Musketeers'.
- Analisis menunjukkan pola makan kaya ikan yang tidak lazim bagi bangsawan Gascony, memicu keraguan identitas, sementara usia tulang (44-66 tahun) masih masuk rentang usia d'Artagnan saat gugur.
- Penggalian ilegal oleh arkeolog amatir Wim Dijkman tanpa izin telah merusak bukti penting, termasuk tengkorak, sehingga penanggalan karbon dan identifikasi DNA menjadi krusial untuk memecahkan misteri.

Penemuan kerangka manusia di bawah lantai Gereja St Peter and Paul di Maastricht, Belanda, awal tahun ini memicu spekulasi bahwa sisa-sisa itu milik d'Artagnan, tokoh nyata yang diabadikan dalam novel The Three Musketeers. Namun, otoritas setempat pada Kamis lalu mengumumkan bahwa identifikasi tersebut belum dapat dipastikan, bahkan sejumlah temuan justru membuka pertanyaan baru.
Menurut pernyataan resmi pemerintah kota Maastricht, penelitian awal menunjukkan kerangka itu milik seorang pria berusia antara 44 hingga 66 tahun—rentang yang mencakup usia d'Artagnan yang tewas pada usia 62 tahun saat pengepungan Maastricht pada 1673. Namun, para peneliti gagal menentukan waktu kematian secara pasti karena ketiadaan data stratigrafi yang memadai.
Kejanggalan lain muncul dari analisis isotop stabil pada tulang. Pola makan pria itu didominasi ikan, ciri khas populasi Eropa timur atau selatan, bukan Gascony di barat daya Prancis tempat d'Artagnan dilahirkan. “Ini menimbulkan pertanyaan apakah diet seperti itu umum di kalangan musketeer Katolik Prancis abad ke-17,” tulis tim peneliti dalam pernyataan kota.
Proses identifikasi semakin rumit akibat tindakan arkeolog amatir Wim Dijkman yang memulai penggalian tanpa izin. Dijkman, yang sebelumnya bekerja di museum setempat, mengaku kepada program TV Belanda Nieuwsuur bahwa ia sengaja tidak melaporkan kegiatannya demi mendapatkan kredit penemuan. Ia bahkan menyimpan beberapa tulang di gudang kebunnya dalam kotak plastik, dan baru mengembalikannya setelah polisi turun tangan. “Banyak informasi berharga yang hilang secara permanen,” kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa tengkorak kemungkinan rusak akibat penanganan yang tidak profesional.
Kisah d'Artagnan sendiri telah melegenda melalui novel Alexandre Dumas pada 1844. Namun, secara historis ia adalah perwira musketeer yang gugur dalam Perang Prancis-Belanda saat pengepungan Maastricht pada 25 Juni 1673. Lokasi gereja tempat kerangka ditemukan memang masuk dalam zona pertempuran, sehingga secara teoritis bisa menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, para sejarawan juga tidak menutup kemungkinan bahwa ia dimakamkan di kuburan massal.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada tantangan identifikasi tokoh sejarah di Nusantara, seperti pencarian makam Pangeran Diponegoro atau sisa-sisa kerajaan Majapahit. Kasus Maastricht menunjukkan betapa sains forensik—dari isotop hingga DNA kuno—dapat menjadi kunci, namun juga betapa pentingnya prosedur arkeologi yang ketat untuk menjaga integritas bukti.
Ke depan, penelitian lebih lanjut dengan analisis DNA purba diharapkan dapat memberikan jawaban definitif. Namun, tanpa data konteks yang hilang akibat penggalian ilegal, mungkinkah identitas d'Artagnan akan tetap menjadi misteri abadi?



