Malaysia Pastikan Pasokan BBM Aman Hingga Agustus 2026, Transisi Energi Digencarkan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia menjamin ketersediaan bahan bakar minyak hingga Agustus 2026 untuk menjaga stabilitas sektor transportasi dan logistik.
- Langkah strategis mencakup perluasan biodiesel B15 dan B20 serta penguatan infrastruktur pencampuran senilai RM41,8 juta.
- Peta jalan transisi energi nasional (NETR) difokuskan pada enam sektor, termasuk efisiensi energi, hidrogen, dan penangkapan karbon.

Pemerintah Malaysia memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional aman hingga Agustus 2026, seiring upaya mempercepat transisi ke energi terbarukan. Menteri Ekonomi Akmal Nasir menyatakan bahwa jaminan ini krusial untuk menjaga kelancaran aktivitas sehari-hari, transportasi umum, logistik, dan sektor bisnis.
Dalam pernyataannya di Dewan Rakyat, Senin (29/6), Akmal mengungkapkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kecukupan jangka pendek, tetapi juga merancang strategi jangka panjang melalui Rencana Malaysia ke-13 (13MP). Rencana ini mendorong ekspansi energi terbarukan dan pemanfaatan sumber daya domestik yang lebih strategis.
Salah satu langkah awal adalah peluncuran bertahap biodiesel B15 yang dimulai pada 1 Juni lalu. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada solar fosil impor dan memperkuat ketahanan pasokan bahan bakar nasional. Hingga saat ini, 69% dari 33 depot pencampuran di seluruh negeri telah memproduksi campuran biodiesel B12 dan B15.
Akmal menambahkan, Fase 1 peningkatan depot pencampuran untuk mendukung biodiesel B20 telah disetujui dalam 13MP dengan biaya RM41,8 juta. Sektor logistik dan transportasi darat juga akan mendapat manfaat dari perbaikan kuota di bawah Sistem Kontrol Diesel Bersubsidi (SKDS), yang dirancang untuk menekan kebocoran tanpa mengganggu stabilitas rantai pasok domestik.
Dalam agenda transisi energi yang lebih luas, implementasi Peta Jalan Transisi Energi Nasional (NETR) akan diperkuat dengan fokus pada enam bidang utama: efisiensi energi, energi terbarukan, hidrogen, bioenergi, mobilitas hijau, serta penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS). Pemerintah juga berencana meningkatkan ketersediaan input strategis antara seperti nafta, resin, dan helium untuk memastikan rantai pasok bahan baku domestik yang aman.
Bagi Indonesia, langkah Malaysia ini menjadi sinyal persaingan di sektor energi regional. Ketika Malaysia gencar mengamankan pasokan dan bertransisi ke energi hijau, Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi dan pengembangan biodiesel untuk menjaga daya saing. Pertanyaannya, apakah kebijakan energi Indonesia cukup agresif untuk mengejar ketertinggalan?



