Daya Beli Tergerus, Bos Leasing Ungkap Nasib Pembiayaan Kendaraan di Tengah Kenaikan BBM
Baca dalam 60 detik
- Penjualan mobil ritel naik 9% di awal 2026, namun realisasi kredit baru multifinance justru turun 2,5%.
- Kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah disebut sebagai faktor utama yang membuat konsumen menunda pengajuan pembiayaan.
- APPI memperkirakan tekanan daya beli masih akan berlanjut, mendorong perusahaan multifinance untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Di tengah optimisme penjualan mobil ritel yang mencatat kenaikan 9% pada awal 2026, industri multifinance justru menghadapi kenyataan pahit: realisasi kredit baru kendaraan roda empat mengalami kontraksi 2,5% dari ekspektasi. Ketua Bidang Hubungan Pemerintah II Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Ristiawan Suherman, mengungkapkan bahwa tekanan daya beli masyarakat menjadi biang keladi di balik perlambatan ini.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memang menunjukkan peningkatan penjualan ritel, tetapi angka tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam penyaluran kredit oleh perusahaan multifinance. Menurut Ristiawan, pertumbuhan penjualan mobil ritel lebih banyak didorong oleh segmen kendaraan listrik (EV) yang melonjak 67% dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Namun, dari sisi pembiayaan, permintaan kredit baru justru melemah.
“Secara total, pembiayaan masih tumbuh 5%, tetapi realisasi kredit baru kendaraan roda empat minus 2,5% dari target. Ini menunjukkan bahwa konsumen mulai menahan diri untuk mengambil cicilan baru,” ujar Ristiawan dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).
Dua faktor utama disebut menjadi pemicu keengganan konsumen: kenaikan harga BBM yang mulai berlaku tahun ini dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Keduanya secara langsung menggerus daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang menjadi pangsa pasar utama kendaraan roda empat. “Konsumen khawatir dengan beban hidup yang semakin tinggi, sehingga mereka menunda pengajuan pembiayaan baru,” tambah Ristiawan.
Fenomena ini memberikan sinyal waspada bagi industri multifinance di Indonesia. Di satu sisi, pertumbuhan penjualan EV yang pesat membuka peluang baru, tetapi di sisi lain, tekanan makroekonomi membuat konsumen lebih berhati-hati. APPI memperkirakan tren ini akan berlanjut setidaknya hingga akhir 2026, kecuali ada kebijakan pemerintah yang mampu meredam gejolak harga energi dan nilai tukar.
Bagi pembaca di Indonesia, kondisi ini berarti bahwa mendapatkan kredit kendaraan baru mungkin akan semakin sulit dalam waktu dekat. Perusahaan multifinance diperkirakan akan memperketat persyaratan kredit dan menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi risiko gagal bayar. Sementara itu, konsumen yang berencana membeli mobil—terutama kendaraan BBM—mungkin perlu mempertimbangkan ulang waktu pembelian atau beralih ke EV yang mendapatkan insentif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah pemerintah mengambil langkah untuk menstabilkan harga BBM dan rupiah, atau justru membiarkan mekanisme pasar berjalan? Jawabannya akan menentukan apakah industri multifinance bisa kembali ke jalur pertumbuhan atau harus bersiap menghadapi tekanan yang lebih dalam.



