Rupiah Kian Terpuruk, Defisit Perdagangan Putus Tren Surplus 6 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,32% ke Rp17.988 per dolar AS pada Kamis (2/7), mendekati level psikologis Rp18.000.
- Defisit neraca perdagangan Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar menjadi yang pertama dalam 72 bulan, memicu tekanan tambahan pada rupiah.
- Ekonom DBS menilai tanpa penyesuaian harga BBM dan dengan harga minyak global tinggi, beban impor akan terus membebani rupiah hingga kuartal III-2026.

Rupiah kembali mencatat pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), kian mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.988 per dolar AS, melemah 0,32% dari hari sebelumnya, menurut data Refinitiv. Padahal, indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,21% ke level 101,177, yang seharusnya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.
Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam rentang sempit Rp17.960 hingga Rp17.995 per dolar AS, menunjukkan tekanan jual yang konsisten. Pelemahan ini terjadi meskipun sentimen global sebenarnya mendukung penguatan rupiah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa faktor domestik menjadi beban utama yang menghambat laju mata uang Garuda.
Salah satu pemicu utama adalah rilis data neraca perdagangan Indonesia yang mengejutkan pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7) melaporkan defisit perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Angka ini menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir, memutus tren surplus yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit tersebut juga merupakan yang terdalam sejak April 2019, ketika defisit mencapai US$2,33 miliar.
Defisit ini dipicu oleh penurunan ekspor komoditas utama seperti minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, sementara impor tetap tinggi akibat harga minyak global yang masih mahal dan permintaan domestik yang kuat. Ekonom senior DBS, Radhika Rao, menilai bahwa tidak adanya penyesuaian harga BBM domestik untuk menekan permintaan menjadi faktor krusial. "Ditambah harga minyak global yang tinggi dan rupiah yang lebih lemah, beban impor semakin berat," ujarnya. Meski demikian, ekspor nikel masih menunjukkan ketahanan.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, pergerakan rupiah yang mendekati Rp18.000 menjadi sinyal waspada. Level psikologis ini kerap memicu aksi spekulasi dan dapat mempercepat arus modal keluar. Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas, namun efektivitasnya bergantung pada perbaikan fundamental ekonomi domestik.
Kabar positif datang dari meredanya ketegangan geopolitik yang mendorong penurunan harga minyak acuan global pada Juni. Menurut Rao, hal ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan mulai kuartal III-2026. Namun, tanpa kebijakan fiskal yang lebih agresif untuk mengendalikan impor, rupiah masih rentan terhadap gejolak eksternal.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah otoritas moneter dan fiskal bersinergi untuk mencegah rupiah menembus Rp18.000, atau justru defisit perdagangan yang berkepanjangan akan menjadi pemicu krisis baru?



