Harga Minyak Stabil Setelah AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz.
- Meski ada serangan kapal baru, produsen Timur Tengah terus memuat minyak dan LNG, menunjukkan optimisme pasar.
- Analis memperingatkan risiko pasokan masih tinggi jika pemulihan pengiriman berlangsung lambat.

Harga minyak mentah dunia bergerak stabil pada awal pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan terbaru di kawasan Teluk, membuka peluang penyelamatan kesepakatan damai sementara yang sempat terancam oleh aksi saling balas dalam beberapa hari terakhir.
Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembicaraan ulang mengenai status Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik rawan konflik dan jalur utama pengiriman minyak global. Langkah ini diambil setelah serangan bertubi-tubi antara kedua negara mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
Pada perdagangan Senin (29/6) pukul 08.03 GMT, harga minyak mentah Brent tercatat naik tipis 4 sen menjadi 72,03 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 44 sen atau 0,6 persen ke level 69,67 dolar AS per barel. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih mencermati perkembangan situasi geopolitik yang belum sepenuhnya pulih.
Analis dari ING dalam catatan mereka pada Senin menilai bahwa masih ada risiko besar yang mengintai pasar minyak. "Kepuasan diri ini aneh dan jelas meninggalkan risiko kenaikan yang signifikan jika pemulihan pasokan terbukti lambat," tulis mereka. Pasar tampaknya lebih fokus pada prospek pemulihan aliran minyak daripada ancaman gangguan baru.
Data pengiriman menunjukkan bahwa produsen Timur Tengah terus melanjutkan pemuatan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) meskipun ada serangan kapal baru di Selat Hormuz dan serangan balasan antara AS dan Iran. Saudi Aramco, raksasa minyak Arab Saudi, telah melanjutkan pemuatan minyak mentah di terminal Ras Tanura pada Jumat pekan lalu setelah dihentikan selama hampir empat bulan. Pemuatan tetap berjalan meskipun sebuah helikopter milik perusahaan jatuh pada Minggu di Ras Tanura, menewaskan 14 warga negara Saudi. Penyebab kecelakaan belum diketahui.
Bagi Indonesia, stabilitas harga minyak global menjadi perhatian utama karena impor minyak masih menjadi beban APBN. Kenaikan harga minyak yang tajam dapat memicu inflasi dan meningkatkan subsidi energi. Kesepakatan AS-Iran setidaknya memberikan jeda bagi pasar, namun risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz tetap mengintai. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai potensi lonjakan harga jika situasi kembali memanas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kesepakatan gencatan senjata ini akan bertahan dan mampu membuka jalan bagi negosiasi yang lebih substansial. Jika pemulihan pasokan berjalan cepat, harga minyak berpotensi terkoreksi lebih lanjut. Namun, jika serangan kembali terjadi, risiko lonjakan harga tetap terbuka lebar.



