Portal 2 Jadi Game Pertama yang Kompatibel dengan Steam Frame, Headset VR Terbaru Valve
Baca dalam 60 detik
- Valve mengonfirmasi Portal 2 sebagai salah satu judul pertama yang mendapat rating kompatibel untuk perangkat Steam Frame, headset VR yang belum dirilis.
- Steam Frame menggunakan arsitektur ARM dengan SteamOS, memanfaatkan Proton dan FEX untuk menjalankan game x86 Windows secara native, termasuk beberapa judul VR.
- Harga dan tanggal rilis Steam Frame baru akan diumumkan pada musim panas 2026, sementara para pengamat menantikan dampaknya terhadap ekosistem VR global.

Valve kembali mengguncang industri game dengan langkah terbarunya: Portal 2, game puzzle first-person shooter legendaris, tercatat sebagai judul pertama yang mendapatkan status kompatibel untuk Steam Frame—perangkat headset virtual reality (VR) yang masih dalam pengembangan. Meski belum ada kepastian harga maupun jadwal peluncuran, pengumuman ini menandai babak baru dalam strategi Valve memperluas ekosistem perangkat kerasnya setelah Steam Controller dan Steam Machine.
Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh Brad Lynch, seorang analis perangkat keras yang dikenal sering membocorkan detail produk Valve. Melalui akun media sosialnya, Lynch menyebutkan bahwa Portal 2 telah diberi rating "playable" pada Steam Frame. Artinya, game tersebut dapat berjalan di perangkat, namun mungkin mengalami kendala performa dan tidak mendukung resolusi asli layar headset. Rating ini menjadi sinyal awal bahwa Valve serius membangun kompatibilitas lintas platform untuk perangkat VR terbarunya.
Yang menarik, Steam Frame bukan sekadar headset VR biasa. Perangkat ini mengusung arsitektur ARM dan menjalankan SteamOS, sistem operasi berbasis Linux milik Valve. Untuk memainkan game Windows yang dibangun untuk arsitektur x86, Steam Frame mengandalkan Proton—lapisan kompatibilitas yang sudah terbukti di Steam Deck—dan FEX, sebuah emulator untuk menjalankan kode x86 di ARM. Kombinasi ini memungkinkan perangkat berjalan secara standalone tanpa perlu terhubung ke PC, mirip dengan konsep Quest dari Meta.
Bagi para penggemar VR, langkah Valve ini membuka kemungkinan baru. Selama ini, salah satu hambatan utama adopsi VR adalah ketergantungan pada perangkat keras yang mahal dan rumit. Dengan Steam Frame, Valve berpotensi menawarkan solusi all-in-one yang lebih terjangkau dan mudah digunakan. Namun, tantangan teknis seperti performa game dan dukungan resolusi masih harus diatasi, seperti yang terlihat pada rating "playable" Portal 2.
Di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Pasar VR di Tanah Air masih tergolong niche, namun mulai tumbuh seiring maraknya konten metaverse dan gaming imersif. Jika Valve berhasil merilis Steam Frame dengan harga kompetitif, bukan tidak mungkin perangkat ini menjadi pintu masuk bagi lebih banyak gamer Indonesia untuk merasakan VR. Selain itu, keberadaan Proton dan FEX juga berarti game-game populer seperti Counter-Strike 2 atau Dota 2—yang sudah berjalan di Steam Deck—berpotensi ikut kompatibel.
Valve dijadwalkan mengumumkan detail lebih lanjut mengenai harga dan tanggal rilis Steam Frame pada musim panas 2026. Pertanyaan besarnya: akankah perangkat ini mampu menyaingi dominasi Meta Quest di pasar VR, atau justru menciptakan ceruk baru bagi pengguna setia Steam?



