Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas, Bursa Asia Tertekan dan Harga Minyak Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Serangan balasan AS terhadap target militer Iran memicu aksi jual di bursa Asia, dengan Kospi Korea Selatan merosot 2,29%.
- Harga minyak Brent dan WTI naik masing-masing 0,8% dan 1,1% menyusul kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Investor global mulai menunjukkan kelelahan terhadap saham teknologi (AI fatigue), menekan indeks Nasdaq lebih dari 6% sepanjang Juni.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memuncak membuat bursa Asia-Pasifik dibuka beragam pada Senin (29/6/2026), dengan indeks Kospi Korea Selatan terpangkas 2,29% dan Nikkei Jepang melemah 0,35%, sementara S&P/ASX Australia justru menguat 0,41%. Pergerakan yang tidak seragam ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu rantai pasok energi global dan stabilitas ekonomi kawasan.
Serangan militer AS terhadap sejumlah fasilitas penyimpanan rudal dan drone Iran di akhir pekan lalu memicu respons cepat dari Presiden Donald Trump yang melalui akun Truth Social-nya menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan balasan atas aksi Teheran di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini menyumbang sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, sehingga setiap gangguan di titik tersebut berpotensi mendongkrak harga energi secara signifikan.
Dari sisi diplomatik, upaya negosiasi yang difasilitasi Pakistan dilaporkan menemui jalan buntu. Meski kedua pihak masih mempertahankan perwakilan di Swiss, pembicaraan formal ditangguhkan hingga situasi memungkinkan. Kebuntuan ini menambah ketidakpastian yang sudah membebani sentimen pasar sejak awal pekan.
Di sisi lain, Wall Street justru menunjukkan sinyal pemulihan tipis pada perdagangan berjangka, dengan futures Dow Jones naik 124 poin (0,2%) dan S&P 500 menguat 0,4%. Namun, kinerja bulanan masih suram: sepanjang Juni, S&P 500 terkoreksi hampir 3% dan Nasdaq Composite anjlok lebih dari 6%, sementara Dow Jones masih mencatat kenaikan tipis 0,6%. Rotasi besar-besaran dari saham teknologi ke sektor lain menjadi pemicu utama pelemahan, dengan Nvidia dan Alphabet masing-masing ambles lebih dari 8%, serta Meta, Apple, dan Amazon turun di atas 4%.
Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, menilai fenomena ini sebagai AI fatigue—kelelahan investor terhadap kecerdasan buatan. Pasar mulai meragukan apakah belanja modal raksasa perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan dalam waktu dekat. Keraguan ini diperkuat oleh data ekonomi yang masih mixed dan ketidakpastian suku bunga acuan.
Bagi investor Indonesia, konflik AS-Iran membawa risiko langsung berupa lonjakan harga minyak yang dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Di saat yang sama, rotasi keluar dari saham teknologi global berpotensi memicu aksi jual di saham-saham teknologi dalam negeri yang terafiliasi dengan rantai pasok global. Namun, kenaikan harga komoditas energi juga bisa menguntungkan emiten sektor migas dan batu bara di Bursa Efek Indonesia.
Pekan ini menjadi penentu arah pasar ke depan. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan negosiasi kembali bergulir, reli harga minyak mungkin terbatas. Sebaliknya, jika konflik meluas hingga mengganggu pasokan minyak secara fisik, tekanan inflasi global akan kembali menguat dan mempersulit bank sentral—termasuk Bank Indonesia—dalam menentukan kebijakan suku bunga. Pertanyaan besarnya: akankah diplomasi mampu meredam eskalasi sebelum Selat Hormuz benar-benar tersumbat?



