Chad Michael Murray Tak Sadar Bawa Hilary Duff ke Premiere 'Freaky Friday' Picu Drama Lawas
Baca dalam 60 detik
- Chad Michael Murray mengaku tidak menyadari implikasi perseteruan Hilary Duff dan Lindsay Lohan saat mengajak Duff ke premiere 'Freaky Friday' pada 2003.
- Momen canggung itu terungkap setelah Duff mengakui sengaja 'menggagalkan' premiere tersebut, memperkuat narasi rivalitas remaja Hollywood era 2000-an.
- Kisah ini menjadi pengingat bagaimana tekanan media dan hubungan personal dapat membentuk persepsi publik terhadap artis muda.

Chad Michael Murray, aktor yang menjadi bintang dalam film remaja era 2000-an, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia tidak menyadari besarnya drama di balik ajakannya kepada Hilary Duff untuk menghadiri premiere Freaky Friday pada 2003. Dalam wawancara dengan Parade, Murray mengaku bahwa saat itu ia hanya berpikir sederhana: mengajak teman main ke acara spesial.
Murray, yang saat itu berusia 19 tahun, memerankan Jake Austin dalam film Disney tersebut, sementara Duff berperan sebagai putri yang bertukar tubuh dengan ibunya. Namun, di luar layar, Duff tengah terlibat perseteruan sengit dengan Lindsay Lohan, yang juga pernah menjadi lawan main Murray di film A Cinderella Story (2004). Tanpa disadari, langkah Murray justru memperkeruh suasana.
"Saya tidak mengerti bobot sebenarnya dari apa yang terjadi," kata Murray. "Saya ingat semua orang bilang, 'Hei, kalian harus lebih sering bersama.' Kami punya adegan ciuman besar, adegan dansa besar, jadi ada banyak kegugupan, dan kami ingin merasa nyaman. Jadi saya pikir, 'Ayo pergi ke premiere. Ayo hang out!'"
Namun, kesadaran akan kesalahannya datang terlambat. Saat tiba di El Capitan Theatre Hollywood, Murray baru menyadari bahwa kehadiran Duff bukanlah ide yang baik. "Saya baru tahu tepat sebelum kami masuk bahwa itu bukan ide terbaik. Tapi ketika Anda berusia 19, Anda tidak punya pandangan ke depan. Saya tidak memikirkan apa pun," ujarnya sambil tertawa.
Drama ini kembali mencuat setelah Duff, dalam podcast Call Her Daddy pada Februari lalu, mengakui bahwa ia sengaja "menggagalkan" premiere Freaky Friday atas undangan Murray. "Saya pikir, ya, tentu saja. Saya remaja... Tapi Chad Michael Murray mengundang saya. Kenapa dia... Saya tidak ingin memulai masalah lagi, tapi dia bilang, 'Kamu harus ikut denganku.' Dan saya jawab, 'Mhm. Mungkin iya.' Usia saya saat itu 16? Tidak, lebih muda dari itu," cerita Duff.
Menariknya, Duff juga tidak terkejut ketika Lohan kemudian muncul di premiere filmnya sendiri, Cheaper by the Dozen, pada tahun yang sama. "Itu seperti perseteruan masa kecil saya, seperti musuh bebuyutan saya. Saya yakin publicist saya akan marah, tapi sekarang sudah bertahun-tahun kemudian. Siapa peduli? Itu tidak penting lagi," kata Duff.
Kisah ini menjadi pengingat bagaimana tekanan industri hiburan dan sorotan media dapat membentuk persepsi publik terhadap artis muda. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi di kalangan selebriti remaja, di mana persaingan dan drama pribadi seringkali dieksploitasi untuk meningkatkan popularitas. Namun, seperti yang diungkapkan Duff, seiring waktu, hal-hal tersebut kehilangan relevansinya.
Murray sendiri menutup dengan nada positif: "Semua orang baik-baik saja, saya menyayangi mereka, dan saya pikir mereka sudah menyelesaikan semua masalah itu." Pertanyaannya, akankah generasi baru artis muda belajar dari pengalaman ini untuk lebih bijak dalam mengelola hubungan di tengah sorotan publik?



