Gus Ipul: Kejujuran Kunci Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat, Bukan Pendaftaran Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Mensos Saifullah Yusuf menegaskan bahwa proses masuk Sekolah Rakyat dilakukan melalui penjangkauan berbasis data DTSEN, bukan pendaftaran umum, dan menuntut kejujuran semua pihak.
- Kepala BPS Amalia Adininggar menyebut data statistik desil 1 dan 2 menjadi dasar penjangkauan sekaligus umpan balik untuk meningkatkan akurasi data kemiskinan nasional.
- Lima Sekolah Rakyat rintisan di Sumatera Selatan telah menampung 96 siswa di SRMA 7 Palembang, dengan tambahan 60 calon siswa baru hasil penjangkauan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menekankan bahwa integritas menjadi fondasi utama dalam menjaring calon siswa Sekolah Rakyat โ program yang tidak membuka pendaftaran umum, melainkan mengandalkan penjangkauan langsung ke keluarga miskin ekstrem berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang, Minggu (28/6), Gus Ipul mengingatkan petugas dan keluarga sasaran bahwa tanpa kejujuran, program afirmasi ini bisa kehilangan arah. โTidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan. Keluarga yang memenuhi kriteria di DTSEN dijangkau petugas, baru ditetapkan menjadi siswa,โ ujarnya di hadapan orang tua dan calon siswa.
Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran publik tentang potensi manipulasi data penerima manfaat. Gus Ipul menegaskan bahwa setelah penjangkauan, pengelolaan sekolah juga harus bersih dari praktik korupsi dan sogok-menyogok. โProgram ini diperuntukkan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dan belum terbawa dalam proses pembangunan,โ tambahnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti yang turut hadir menambahkan bahwa data statistik bukan sekadar angka. โStatistik bisa memberikan makna yang luar biasa bagi anak-anak kita di Sekolah Rakyat, sehingga mereka memiliki mimpi untuk masa depan,โ katanya. Menurut Amalia, respons positif dari keluarga desil 1 dan 2 menjadi umpan balik berharga bagi BPS untuk menyempurnakan akurasi DTSEN.
Acara Open House di SRMA 7 Palembang juga menampilkan berbagai atraksi siswa, mulai dari baris-berbaris, tari Kuda Lumping, Gending Sriwijaya, karate, hingga pidato dalam empat bahasa asing. Gus Ipul mengaku bangga dengan perkembangan siswa yang telah mengenyam pendidikan selama sebelas bulan. โSaya bangga pada anak-anak sekalian, bangga kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan,โ ucapnya.
Salah satu orang tua, Widya Wati, mengakui perubahan signifikan pada putrinya, Nur Aziza, yang menjadi pembawa acara. โDulu agak malas, sekarang rajin salat, mau membantu saya memasak dan mengurus pekerjaan rumah. Harapan saya Nur menjadi anak yang berguna,โ tuturnya. Kisah seperti ini, menurut Gus Ipul, menjadi alasan kehadiran program Sekolah Rakyat โ menjangkau keluarga yang selama ini terlewat dari pembangunan.
Ke depan, lulusan Sekolah Rakyat akan memiliki dua jalur: melanjutkan ke perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil sesuai potensi masing-masing. Namun, tantangan terbesar tetap pada konsistensi data dan integritas di lapangan. Akankah model penjangkauan berbasis DTSEN ini mampu diperluas tanpa bocor ke pihak yang tidak berhak?



