Qantas Hidangkan Hidangan Legendaris Wing Seong Fatty’s di Lounge Changi
Baca dalam 60 detik
- Maskapai Qantas menghadirkan dua menu ikonis restoran Wing Seong Fatty’s yang baru tutup ke lounge First dan Business di Bandara Changi.
- Kolaborasi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang restoran yang telah menjadi bagian dari perjalanan awak dan penumpang Qantas sejak era Perang Dunia II.
- Langkah Qantas membuka peluang bagi maskapai lain untuk mengadopsi warisan kuliner lokal sebagai daya tarik layanan premium di bandara.

Qantas, maskapai asal Australia, mengumumkan kerja sama dengan Wing Seong Fatty’s Restaurant, rumah makan Kanton legendaris yang baru saja menutup operasinya. Dua hidangan ikonis restoran tersebut—lumpia renyah dan ayam nuklir—kini tersedia di lounge First dan Business Qantas di Bandara Changi Singapura. Langkah ini menjadi cara Qantas merawat memori kuliner yang telah melekat dengan sejarah penerbangan mereka di Asia Tenggara.
Wing Seong Fatty’s Restaurant bukan sekadar tempat makan biasa. Berdiri sejak era Perang Dunia II, restoran ini bermula dari aksi kemanusiaan pendirinya, Au Yuen, dan putranya Au Chan Seng yang akrab disapa “Fatty”. Mereka diam-diam memberi makan tawanan perang di tengah risiko besar. Kisah heroik itu menyebar di kalangan tentara Australia dan pilot Royal Australian Air Force, menjadikan Fatty’s tempat nongkrong favorit para kru penerbangan, termasuk pilot Qantas.
Setelah berpindah lokasi beberapa kali—dari Albert Street ke Albert Complex pada 1987, lalu ke Burlington Square pada Oktober 1999—restoran akhirnya tutup pada 28 Juni lalu karena tidak ada generasi penerus. Namun, Qantas memastikan warisan rasanya tetap hidup. Nick McGlynn, Wakil Presiden Eksekutif Qantas untuk Asia, menyatakan bahwa Fatty’s telah menjadi bagian dari cerita Qantas di Singapura selama puluhan tahun. “Singapura adalah salah satu basis internasional terpenting kami sejak akhir 1940-an, dan Fatty’s telah terjalin dalam sejarah itu sejak awal,” ujarnya.
Bagi penggemar kuliner di Indonesia, kabar ini mungkin memicu rasa penasaran. Meski belum ada rencana serupa untuk lounge Qantas di bandara lain, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana maskapai dapat memanfaatkan warisan kuliner lokal untuk memperkuat identitas merek. Di tengah persaingan ketat layanan premium bandara, menghadirkan cita rasa bersejarah bisa menjadi nilai tambah yang sulit ditiru. Apalagi, hubungan historis antara Australia dan Indonesia juga tidak lepas dari peran kuliner—misalnya, kehadiran masakan Padang di beberapa kota Australia.
Kepala Pilot Qantas, Dick Tobiano, menambahkan bahwa Fatty’s lebih dari sekadar restoran bagi para pilot. “Ini adalah tempat di mana kru dari berbagai pangkalan dan armada berkumpul untuk berbagi meja yang sama. Kami sangat berterima kasih kepada keluarga Au atas persahabatan mereka selama ini,” katanya. Penghormatan terakhir Qantas sebelum penutupan adalah makan malam perpisahan yang dihadiri oleh perwakilan maskapai, di mana sebuah buku berisi foto dan pesan dari kru diberikan kepada keluarga Au.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah langkah Qantas ini akan diikuti oleh maskapai lain yang memiliki ikatan sejarah dengan restoran legendaris di berbagai kota. Atau, mungkinkah ini menjadi awal dari tren “warisan kuliner” di lounge bandara global? Yang jelas, bagi para pelancong yang merindukan hidangan Wing Seong Fatty’s, lounge Qantas di Changi menjadi satu-satunya tempat untuk menikmatinya—setidaknya untuk saat ini.



