XRP Terjepit di Harga $1, Ripple Incar Volume Pembayaran $16 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP terperosok ke level $1, tertekan sentimen pasar kripto secara luas meski Ripple terus memperkuat fundamental pembayaran lintas batas.
- CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyebut volume pembayaran tahunan yang diproses perusahaan akuisisi Ripple mencapai $16 triliun, dengan pemanfaatan aset digital masih mendekati nol persen.
- Aliran dana masuk ke ETF XRP spot AS yang mencapai $15,63 juta pada 26 Juni menjadi kontras dengan arus keluar ETF Bitcoin, menandakan minat investor institusional yang tetap solid.

Harga XRP terpaksa bertahan di ambang kritis $1 pada awal pekan ini, saat Ripple justru semakin agresif membidik pasar pembayaran lintas batas senilai triliunan dolar. Kenaikan tipis 1% ke $1,05 disertai lonjakan volume perdagangan 22% menjadi $1,32 miliar belum cukup mengangkat token dari tekanan bearish yang membayangi.
Analis teknikal menilai XRP kini menjadi salah satu aset berkapitalisasi besar yang paling lemah, setelah jebol dari rentang support $1,30โ$1,50. Level $1 menjadi ujung tombak yang menentukan apakah token ini akan memantul atau justru terperosok lebih dalam. Sentimen pasar yang didominasi pergerakan Bitcoin dan persepsi negatif terhadap altcoin menjadi biang kerok utama, bukan karena faktor fundamental XRP itu sendiri.
Di tengah tekanan harga, Ripple justru memamerkan potensi besar di sektor pembayaran institusional. CEO Brad Garlinghouse mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan yang diakuisisi Ripple memproses volume pembayaran tahunan mencapai $16 triliun. Namun, penggunaan aset digital dalam aliran dana tersebut masih "mendekati nol persen." Strategi Ripple adalah memanfaatkan XRP sebagai lapisan penyelesaian (settlement layer) untuk memodernisasi infrastruktur keuangan tradisional.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, adopsi XRP untuk pembayaran lintas batas bisa mempercepat dan menekan biaya remitansi, yang volumenya mencapai miliaran dolar setiap tahun dari pekerja migran Indonesia. Namun, volatilitas harga XRP yang masih tinggi membuatnya kurang ideal sebagai alat tukar harian. Regulator seperti Bank Indonesia dan OJK juga masih belum memberikan kerangka jelas untuk aset digital sebagai alat pembayaran.
Menariknya, arus dana masuk ke ETF XRP spot AS justru menunjukkan kepercayaan investor institusional yang bertahan. Pada 26 Juni, ETF XRP mencatat aliran dana masuk bersih $15,63 juta, sementara ETF Bitcoin justru mengalami arus keluar $444,51 juta. Kontras ini mengindikasikan bahwa XRP memiliki cerita unik yang mampu menarik modal di saat pasar lesu. "Ini sinyal netral hingga bullish karena menunjukkan permintaan investor yang berdedikasi tetap ada meskipun pasar sedang turun," demikian analisis yang beredar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Ripple mampu mengonversi peluang pembayaran triliunan dolar menjadi permintaan on-chain yang signifikan dalam waktu dekat. Proses adopsi institusional biasanya berlangsung bertahun-tahun, dan XRP harus bertahan dari tekanan pasar jangka pendek. Jika Ripple berhasil, XRP bisa menjadi jembatan antara sistem keuangan tradisional dan dunia kripto. Namun, jika gagal mempertahankan level $1, risiko koreksi lebih dalam tetap mengintai.



