Saham ANTM Diburu Investor Asing: Dividen Jumbo dan Prospek Emas-Nikel Jadi Daya Tarik
Baca dalam 60 detik
- Net buy investor asing di saham ANTM mencapai Rp306,45 miliar dalam sepekan terakhir, menandakan kepercayaan pasar yang tinggi.
- Konsistensi dividen dengan rasio pembayaran 70-100% dan pertumbuhan laba 58% di Q1-2026 menjadi katalis utama.
- Prospek harga emas dan nikel yang masih positif, ditambah ekspansi smelter alumina, memperkuat fundamental emiten tambang pelat merah ini.

Di tengah volatilitas harga emas global yang sempat menyentuh rekor di atas USD5.500 per ons, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru mencatatkan aksi beli besar-besaran dari investor asing. Dalam sepekan terakhir sejak 22 Juni, net buy asing di saham emiten pelat merah ini mencapai Rp306,45 miliar, menandakan optimisme yang tak surut meski harga emas terkoreksi.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai daya tarik utama ANTM terletak pada konsistensi pembagian dividen yang didukung oleh profitabilitas solid. "Kemampuan mencetak arus kas yang kuat dari segmen emas dan nikel memberikan kepastian bahwa dividend payout ratio (DPR) historis di kisaran 70% hingga 100% masih berkelanjutan," ujarnya. Dalam tiga tahun terakhir, dividen per saham ANTM terus meningkat: Rp128,07 (2024), Rp151,77 (2025), dan Rp209,90 (2026), memberikan imbal hasil 5-10% per tahun bagi pemegang saham.
Kinerja keuangan ANTM pada Triwulan I-2026 menjadi bukti fundamental yang kokoh. Laba periode berjalan melonjak 58% menjadi Rp3,66 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp2,32 triliun. EBITDA juga tumbuh 55% menjadi Rp5,05 triliun dari Rp3,26 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh optimalisasi segmen nikel, penguatan rantai pasok emas, serta mulai beroperasinya pabrik smelter grade alumina (SGA) yang memperkuat segmen bauksit dan alumina.
Bagi investor Indonesia, saham ANTM menawarkan kombinasi unik antara eksposur komoditas dan pendapatan dividen reguler. Dengan cadangan emas dan nikel yang melimpah, serta proyek hilirisasi yang berjalan, ANTM diposisikan untuk memanfaatkan tren transisi energi dan permintaan logam industri. Namun, risiko tetap ada, terutama jika harga emas global kembali tertekan oleh kebijakan moneter AS atau perlambatan ekonomi China.
Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), saham ANTM ditutup menguat 6,13% ke Rp2.770, mencerminkan sentimen positif pasca-rali harga emas. Pertanyaannya, mampukah ANTM mempertahankan momentum ini di tengah potensi koreksi komoditas dan tekanan eksternal? Jawabannya akan bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan laba dan komitmen dividen di sisa tahun 2026.



