Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Tahuna: Getaran Dangkal Kembali Terjadi di Perairan Sangihe
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1 melanda wilayah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin siang.
- Pusat gempa berada di kedalaman hanya 10 kilometer, menjadikannya gempa dangkal yang berpotensi menimbulkan guncangan signifikan meskipun berjarak 135 kilometer dari daratan.
- BMKG mengingatkan data awal bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan informasi, sembari mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1 kembali mengguncang wilayah perairan barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin (29/6/2026) siang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di kedalaman dangkal, hanya 10 kilometer, sehingga getarannya terasa cukup kuat meskipun episentrumnya terletak 135 kilometer dari daratan.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi tepat pukul 11.23.05 WIB dengan koordinat 4,79 Lintang Utara dan 125,17 Bujur Timur. Wilayah yang terdampak langsung adalah Tahuna dan sekitarnya di Kepulauan Sangihe. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. Namun, karakteristik gempa dangkal seperti ini kerap memicu kepanikan di kalangan warga karena guncangannya terasa tiba-tiba.
Kepulauan Sangihe memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Sepanjang 2026, wilayah ini telah beberapa kali diguncang gempa dengan magnitudo bervariasi, termasuk gempa magnitudo 4,6 yang terjadi pada hari yang sama. Kondisi ini mengingatkan kembali pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan infrastruktur tahan gempa di Indonesia timur.
Dalam keterangan yang disiarkan melalui akun media sosial X, BMKG menegaskan bahwa informasi yang dirilis mengutamakan kecepatan. "Hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG. Pernyataan ini lazim disertakan untuk mengantisipasi kemungkinan revisi parameter gempa setelah data dari lebih banyak stasiun seismograf terkumpul. Masyarakat pun diimbau tidak mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi.
Bagi Indonesia, khususnya Sulawesi Utara, gempa bumi bukanlah fenomena langka. Wilayah ini termasuk dalam Sabuk Alpida, jalur gempa aktif yang membentang dari Mediterania hingga Asia Tenggara. Pemerintah daerah bersama BMKG terus menggencarkan edukasi mitigasi bencana, namun tantangan geografis berupa wilayah kepulauan kerap memperlambat respons saat gempa terjadi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur di Sangihe sudah cukup tangguh menghadapi gempa susulan yang mungkin menyusul?



