Kebakaran TPA Jatiwaringin Hari Ketiga: Asap Mengancam, Warga Mulai Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Api di TPA Jatiwaringin, Tangerang, masih menyala hingga hari ketiga, memicu kepulan asap pekat yang mengganggu warga.
- Tiga kecamatan terdampak polusi udara; warga Desa Tanjakan Mekar mengungsi karena gangguan pernapasan.
- Pemadaman sempat dihentikan sementara, sementara Kementerian Lingkungan Hidup memantau kualitas udara di lokasi.

Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih belum terkendali hingga Kamis (2/7) pagi, memasuki hari ketiga sejak api pertama kali muncul pada Selasa (30/6). Kepulan asap hitam pekat terus membumbung tinggi, mengancam kesehatan warga di sekitarnya dan memaksa sebagian dari mereka mengungsi.
Pantauan di lokasi menunjukkan api masih terlihat di sejumlah titik di tengah tumpukan sampah yang hangus. Asap bergerak ke arah utara mengikuti arah angin, membuat aktivitas di TPA nyaris lumpuh. Tidak ada kendaraan pengangkut sampah yang keluar-masuk, sementara alat berat seperti ekskavator terparkir di area yang aman. Proses pemadaman pada pagi hari sempat dihentikan sementara, dengan petugas pemadam kebakaran beristirahat di Kantor UPT TPA Jatiwaringin sebelum kembali melanjutkan upaya.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menurunkan mobil stasiun pemantau kualitas udara untuk mengukur dampak pencemaran. Hingga saat ini, sedikitnya tiga kecamatan—Mauk, Rajeg, dan Sukadiri—terdampak polusi udara. Warga Desa Tanjakan Mekar, yang berada di sisi barat TPA, menjadi yang paling sering terpapar. Sejak Rabu (1/7) malam, sebagian warga mengungsi ke kantor desa karena asap semakin pekat pada sore hingga malam hari.
Salah seorang warga, Sarnata, mengungkapkan bahwa asap menyebabkan mata perih dan dada sesak. "Asapnya perih, dada juga sesak. Kalau asapnya sudah ke sini, perihnya bukan main," katanya. Ia menambahkan bahwa pada sore hingga malam hari, angin kerap berubah arah menuju desanya, memaksa warga untuk mengungsi secara rutin. Kondisi ini sudah berlangsung sejak kebakaran mulai meluas.
Dampak kesehatan mulai dirasakan. Sarnata mengaku mengalami batuk dan sesak napas, sementara cucunya yang masih balita harus dilarikan ke rumah sakit karena gangguan pernapasan. "Cucu saya yang masih kecil sampai dibawa ke rumah sakit karena sesak napas," tuturnya. Belum ada laporan resmi dari Dinas Kesehatan setempat mengenai jumlah warga yang terdampak, namun kekhawatiran akan meluasnya gangguan pernapasan semakin meningkat.
Kebakaran TPA Jatiwaringin ini menjadi pengingat akan rentannya pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan sistem pemadaman yang masih manual dan ketergantungan pada arah angin, risiko pencemaran udara jangka panjang mengintai. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pemerintah daerah memiliki rencana darurat yang memadai untuk menangani kebakaran TPA serupa di masa depan, atau warga harus terus bergantung pada nasib dan arah angin?



