Pencarian Pelatih Baru Skotlandia: SFA Buka Semua Opsi Usai Kepergian Steve Clarke
Baca dalam 60 detik
- Steve Clarke mundur setelah Skotlandia gagal lolos ke fase gugur Piala Dunia, hanya mengoleksi satu kemenangan di fase grup.
- CEO SFA Ian Maxwell menyatakan tidak ada batasan dalam mencari pengganti, termasuk merekrut pelatih asing.
- Skotlandia akan menghadapi laga Nations League pada September, sehingga proses seleksi pelatih harus segera rampung.

Kepergian Steve Clarke dari kursi pelatih tim nasional Skotlandia membuka babak baru yang penuh ketidakpastian. Kepala Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA), Ian Maxwell, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membatasi opsi dalam mencari sosok pengganti—baik dari dalam maupun luar negeri. Pernyataan itu disampaikan Maxwell di Charlotte, North Carolina, sehari setelah Skotlandia resmi tersingkir dari Piala Dunia.
Skotlandia mengawali turnamen dengan kemenangan tipis 1-0 atas Haiti, namun kemudian takluk 0-1 dari Maroko dan 0-3 dari Brasil. Hasil tersebut menempatkan mereka di peringkat ke-11 dari 12 tim peringkat ketiga terbaik, gagal melaju ke babak 32 besar. Padahal, Clarke baru saja menandatangani kontrak baru berdurasi empat tahun pada akhir Mei lalu, yang dimaksudkan untuk memberikan stabilitas menjelang turnamen.
Maxwell mengakui bahwa keputusan Clarke mundur merupakan kejutan yang menyakitkan. “Kami sedih karena perjalanan Piala Dunia berakhir, dan sedih karena pelatih paling sukses kami memutuskan untuk lengser,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kritik pedas dari publik di tanah air turut mempengaruhi suasana, namun keputusan tetap berada di tangan Clarke.
Meski hasil di turnamen mengecewakan, Maxwell menilai warisan Clarke tetap positif. Sejak ditunjuk pada 2019, Clarke berhasil membawa Skotlandia lolos ke Euro 2020—mengakhiri paceklik 23 tahun tanpa turnamen—dan kemudian ke Euro 2024 serta Piala Dunia 2026. “Jika tujuh tahun lalu kami bilang inilah yang akan terjadi, semua orang pasti akan menerimanya,” kenang Maxwell.
Proses rekrutmen pelatih baru disebut akan dimulai secepatnya, mengingat jadwal padat yang menanti. “Kami punya pertandingan pada September. Sulit menentukan tanggal pasti, tapi kami ingin orang yang tepat,” kata Maxwell. Ia juga menyebut bahwa Skotlandia adalah “pekerjaan yang menarik” karena memiliki skuad kompetitif dan prospek Euro 2028.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini mengingatkan pada tantangan serupa yang dihadapi PSSI ketika mencari pelatih timnas. Pengalaman Skotlandia membuka peluang bagi pelatih asing tanpa memandang asal negara bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah tekanan publik dan target prestasi, proses seleksi yang transparan dan terukur menjadi kunci—sesuatu yang juga relevan dengan konteks sepak bola nasional.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah SFA menemukan sosok yang mampu membawa Skotlandia melangkah lebih jauh dari sekadar lolos ke turnamen? Atau justru tekanan untuk segera mengisi kursi kosong akan menghasilkan keputusan tergesa-gesa?



