Marcus Tulio Tanaka: Dari Bintang Timnas Jepang Menjadi Koboi Filantropi di Brazil
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek timnas Jepang, Marcus Tulio Tanaka, kini menjalani hidup sebagai peternak di pedalaman Brazil dan mendirikan sekolah untuk warga kampung halamannya.
- Tulio optimistis Jepang memiliki peluang besar di Piala Dunia 2026, terutama saat menghadapi Brazil di babak 32 besar, berkat organisasi permainan yang solid.
- Kisahnya menjadi cermin hubungan historis sepak bola Jepang-Brazil, yang juga relevan bagi Indonesia dalam membangun jembatan sepak bola dengan negara lain.

Marcus Tulio Tanaka, mantan bek timnas Jepang yang kini memilih hidup tenang di pedesaan Brazil, akan menjadi penonton istimewa saat Jepang berhadapan dengan Brazil di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pria 45 tahun yang akrab disapa Tulio ini tidak hanya meninggalkan gemerlap stadion, tetapi juga mengabdikan diri pada komunitasnya dengan mendirikan sekolah di kampung halamannya.
Lahir di Brazil dari ayah keturunan Jepang generasi kedua dan ibu berdarah Brazil-Italia, Tulio pindah ke Jepang saat SMA. Kurang dari lima tahun kemudian, ia memulai debut di J.League bersama Sanfrecce Hiroshima, dan pada 2006 resmi menjadi pemain internasional Jepang. Kini, ia membagi waktu antara kunjungan ke Jepang dan kehidupan di Palmeira d'Oeste, kota kecil berpenduduk 10.000 jiwa yang jauh dari hiruk-pikuk metropolitan.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA menjelang laga Jepang vs Brazil di Houston, Tulio mengaku tidak merindukan sepak bola. "Saya menjalani 23 tahun yang keras sebagai pemain. Sekarang saya ingin hidup sesuai keinginan saya. Sejak muda, saya selalu suka berada di peternakan, memancing, dan hidup bersama sapi serta kuda," ujarnya. Ia menggambarkan kehidupannya sebagai "koboi modern" yang menikmati kesederhanaan tanpa lampu lalu lintas.
Hubungan sepak bola Jepang-Brazil memiliki akar sejarah yang dalam. Gelombang migrasi awal abad ke-20 membawa pengaruh besar, termasuk pada klub-klub J.League yang mengadopsi nama dan warna khas Brazil. Pemain naturalisasi seperti Ruy Ramos, Wagner Lopes, dan Alex Santos menjadi jembatan budaya. Tulio sendiri adalah contoh nyata dari ikatan ini, dan ia optimistis Jepang memiliki peluang lebih besar di Piala Dunia 2026. "Jika ini Piala Dunia lain, peluang Jepang mungkin lebih rendah. Tapi kali ini, tim sangat terorganisir dan tahu persis apa yang ingin dilakukan," katanya.
Menurut analis sepak bola, keyakinan Tulio bukan tanpa dasar. Jepang menunjukkan performa solid di babak grup meski tergabung dalam grup berat bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. "Jepang berada di jalur yang benar," tegas Tulio, seraya mengakui Brazil tetap favorit berkat sejarah lima gelar juara dunia.
Di luar lapangan, warisan Tulio justru lebih abadi. Sekolah CEIA yang ia bangun bersama ayahnya di Palmeira d'Oeste menjadi bukti filantropi yang lahir dari kesuksesan sepak bola. "Jika tidak sekolah, kamu tidak akan maju. Itulah mengapa saya membangun sekolah ini," ujarnya. Kini, kebahagiaannya datang dari hal-hal sederhana: melihat anak sapi lahir atau kuda kecil mulai berjalan.
Bagi Indonesia, kisah Tulio menawarkan pelajaran tentang bagaimana diaspora dapat memperkuat ikatan sepak bola lintas negara. Dengan banyaknya pemain keturunan Indonesia di Eropa, model naturalisasi dan pembinaan ala Jepang-Brazil bisa menjadi inspirasi. Pertanyaan yang muncul: mampukah Indonesia membangun jembatan serupa untuk mempercepat kemajuan sepak bola nasional?



