Kenaikan Tarif Listrik dan Gas di Singapura: Beban Baru bagi Dunia Usaha
Baca dalam 60 detik
- Tarif listrik dan gas di Singapura melonjak hingga rekor tertinggi pada kuartal III-2026, dipicu konflik Timur Tengah dan gangguan pasokan LNG.
- Pelaku UKM seperti restoran, toko kue, dan dealer mobil terpaksa menaikkan harga, memangkas layanan, atau menyerap biaya tambahan yang menggerus margin.
- Pemerintah Singapura memperluas hibah efisiensi energi hingga 2028, namun asosiasi bisnis memperingatkan gelombang penutupan usaha jika tekanan biaya berlanjut.

Kenaikan tarif listrik dan gas bumi di Singapura pada awal Juli 2026 menjadi pukulan telak bagi para pengusaha kecil dan menengah di negara-kota tersebut. Harga energi yang mencapai rekor tertinggi memaksa banyak pelaku bisnis mencari cara bertahan di tengah margin yang terus tergerus.
Jacky Wong, pemilik generasi ketiga restoran legendaris Kok Sen, mengaku stres melihat lonjakan biaya operasional. Tarif listrik untuk rumah tangga naik 4,64 sen per kWh menjadi 31,91 sen per kWh (sebelum PPN), sementara tarif gas kota meningkat 1,56 sen per kWh menjadi 23,48 sen per kWh. Kenaikan rata-rata tarif listrik secara keseluruhan mencapai 17,5 persen dibanding kuartal sebelumnya. Wong telah menaikkan biaya layanan di restorannya dari 3 menjadi 5 persen dan mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut.
Di sektor usaha kecil, dampaknya terasa lebih akut. Chow Choon Kit, pemilik toko kue The Patissier, mencatat tagihan listriknya melonjak dari sekitar SGD 1.900 pada Maret menjadi SGD 3.200 pada Mei karena membeli listrik dengan tarif grosir. Untuk menghemat, ia mengurangi jumlah varian kue dari delapan menjadi lima atau enam, serta mengoptimalkan penggunaan oven dan lemari pendingin. โKenaikan biaya listrik ini seperti tendangan tambahan di saat kami sudah terpuruk,โ ujarnya.
Dealer mobil Continental, Monster Motors, memperkirakan tagihan listrik bulanannya bertambah SGD 300โ400. Direktur Utama Alastair Tay mendorong karyawan mematikan peralatan elektronik sebelum pulang. Penjualan mobilnya turun hingga 40 persen sejak konflik Timur Tengah pecah, karena konsumen enggan membeli barang mahal di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ang Yuit, Presiden Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah Singapura (ASME), menilai kenaikan ini terjadi di saat yang sulit. โMargin sudah sangat tertekan. Beberapa usaha mungkin berhenti menerima pesanan tertentu atau tutup karena tidak lagi menguntungkan,โ katanya. Ia menyambut perluasan Hibah Efisiensi Energi yang akan mencakup semua sektor hingga Maret 2028, bagian dari paket dukungan hampir SGD 1 miliar yang diumumkan pemerintah pada April lalu.
Federasi Bisnis Singapura (SBF) dalam survei sentimen kuartal I-2026 yang dirilis 1 Juli lalu mencatat kenaikan indeks ekspektasi biaya dari 71 poin (Q4 2025) menjadi 75,9 poin. SBF memperkirakan tekanan biaya akan semakin intensif di sebagian besar sektor, terutama manufaktur. Gangguan rantai pasok global dan konflik geopolitik diproyeksikan terus mendongkrak harga energi dan logistik.
Di tengah tekanan ini, beberapa merek besar seperti Gardenia dan Tiger Beer telah memindahkan produksi keluar Singapura. Wong dari Kok Sen memperingatkan bahwa jika biaya terus meningkat, semakin banyak perusahaan akan mengikuti jejak mereka. โMereka sudah melihat biaya operasi di Singapura dan memilih pindah,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan negara pengimpor energi terhadap gejolak harga global. Dengan ketergantungan pada LNG dan bahan bakar fosil, kebijakan subsidi energi dan insentif efisiensi menjadi krusial untuk menjaga daya saing sektor UKM. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah seperti perluasan hibah efisiensi energi sudah cukup untuk mencegah gelombang relokasi industri serupa di kawasan?



