EMMI Siap Melantai di BEI Pekan Depan, Harga IPO Rp470 per Saham
Baca dalam 60 detik
- PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) mematok harga penawaran umum perdana Rp470 per saham, menargetkan dana segar Rp245,74 miliar.
- Sebanyak 72,3% dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku dan proyek soft loan alat kesehatan.
- Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 8 Juli 2026, dengan penjamin emisi BRI Danareksa Sekuritas dan INA Sekuritas.

PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026, setelah menetapkan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp470 per lembar. Langkah ini membuka peluang bagi investor ritel untuk ikut serta dalam ekspansi perusahaan alat kesehatan yang tengah menikmati pertumbuhan laba tiga kali lipat dalam setahun terakhir.
Dalam prospektus yang dirilis pekan ini, perseroan menawarkan sebanyak 522.857.000 saham baru, setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga tersebut, EMMI diperkirakan mengantongi dana segar sekitar Rp245,74 miliar. Masa penawaran umum berlangsung pada 2โ6 Juli 2026, diikuti penjatahan pada 6 Juli dan distribusi saham pada 7 Juli.
Direktur Utama EMMI, Florian Chris Widjaja, menjelaskan bahwa dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung pengembangan usaha. Rincian alokasi dana menunjukkan sekitar 72,3% atau Rp177,6 miliar dialokasikan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku dan persediaan guna menunjang proyek soft loan alat kesehatan. Sebesar Rp50 miliar akan digunakan untuk membayar sebagian pokok pinjaman, sementara 6,4% sisanya untuk belanja modal pembangunan gedung pabrik di Cikupa.
Kinerja keuangan EMMI menunjukkan tren positif. Pada tahun buku 2025, perseroan membukukan laba bersih Rp34,13 miliar, melonjak signifikan dibandingkan laba Rp11 miliar pada tahun sebelumnya. Penjualan bersih pun tercatat Rp454,63 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan terhadap alat kesehatan di dalam negeri, sebagaimana diungkapkan oleh Florian.
Bagi investor Indonesia, IPO EMMI menjadi salah satu opsi di sektor kesehatan yang tengah bergairah. Dengan harga Rp470 per saham, valuasi perusahaan tergolong moderat jika dibandingkan dengan emiten alat kesehatan lain di BEI. Namun, investor perlu mencermati struktur kepemilikan yang terkonsentrasi: Surya Gunawan Widjaja menguasai 55%, Eddy Lie 35%, dan Andre Fajar Surya Gunawan 10%. Tidak ada pemegang saham publik sebelum IPO, sehingga likuiditas pasca-listing akan bergantung pada minat pasar.
Penjaminan emisi dengan skema full commitment oleh BRI Danareksa Sekuritas dan INA Sekuritas memberikan kepastian bahwa seluruh saham akan terserap. Meski demikian, sentimen pasar global dan domestik yang fluktuatif bisa mempengaruhi performa saham di hari pertama perdagangan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah EMMI mampu mempertahankan momentum pertumbuhan labanya di tengah persaingan industri alat kesehatan yang semakin ketat?



