DR Congo Ubah Taktik, Andalkan Serangan Cepat Hadapi Uzbekistan di Laga Penentu Grup K
Baca dalam 60 detik
- Timnas DR Congo melakukan tiga perubahan starting line-up dengan beralih ke formasi menyerang untuk mengalahkan Uzbekistan dan lolos ke babak 32 besar.
- Uzbekistan, yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia, melakukan empat perubahan setelah dibantai Portugal 5-0 pada laga sebelumnya.
- Pertandingan di Atlanta ini menjadi penentu nasib kedua tim: DR Congo butuh kemenangan, sementara Uzbekistan berjuang untuk poin perdana mereka.

Pelatih DR Congo, Sebastien Desabre, mengambil langkah berani dengan mengubah formasi timnya menjadi lebih ofensif saat menghadapi Uzbekistan dalam laga pamungkas Grup K Piala Dunia 2026, Sabtu (27/6) waktu setempat. Keputusan ini diambil demi meraih kemenangan yang akan mengantarkan The Leopards ke babak 32 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah partisipasi mereka.
Dalam dua pertandingan sebelumnya melawan Portugal dan Kolombia, DR Congo tampil dengan lima pemain bertahan. Namun, untuk laga krusial ini, Desabre mengorbankan bek Steve Kapuadi dan memasukkan gelandang serang Brian Cipenga. Di lini tengah, Nathanael Mbuku dan Noah Sadiki yang lebih agresif diturunkan sejak awal, menggantikan Edo Kayembe dan Ngalayel Mukau yang lebih defensif. Perubahan ini menunjukkan tekad DR Congo untuk tidak sekadar bertahan, melainkan mengambil kendali permainan sejak menit pertama.
Sementara itu, Uzbekistan yang tampil sebagai debutan di Piala Dunia 2026 juga melakukan empat perubahan susunan pemain setelah kekalahan telak 5-0 dari Portugal. Pelatih mereka, Srečko Katanec, merombak lini pertahanan dengan menurunkan Khojiakbar Alijonov dan Jakhongir Urozov menggantikan Abdulla Abdullaev dan Behruzjon Karimov. Di lini tengah, Akmal Mozgovoy kembali dipercaya mengisi posisi gelandang, sementara Dostonbek Khamdamov masuk untuk menambah daya gedor. Perubahan ini diharapkan bisa memperbaiki performa tim yang masih mencari poin pertama mereka di turnamen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana tim non-unggulan seperti DR Congo dan Uzbekistan berjuang untuk menembus babak gugur. Pelajaran tentang adaptasi taktik dan keberanian mengambil risiko bisa menjadi inspirasi bagi Timnas Indonesia yang tengah membangun skuad untuk kualifikasi Piala Dunia mendatang. Keberanian Desabre mengubah formasi menjadi lebih ofensif di laga hidup-mati menjadi contoh bahwa fleksibilitas taktik sering kali menjadi kunci di turnamen besar.
“Kami datang ke sini untuk menang. Tidak ada pilihan lain. Pemain siap bertarung dan saya percaya dengan perubahan ini kami bisa mengontrol permainan,” ujar Desabre dalam konferensi pers sebelum pertandingan, seperti dikutip dari laporan markas besar tim.
Pertandingan di Atlanta Stadium ini diprediksi berlangsung sengit. DR Congo mengandalkan duet penyerang Cedric Bakambu dan Yoane Wissa yang telah mencetak dua gol sejauh ini, sementara Uzbekistan masih mengandalkan ketajaman Eldor Shomurodov yang menjadi andalan di lini depan. Dengan kedua tim sama-sama membutuhkan kemenangan, laga ini dipastikan akan menyajikan permainan terbuka dan penuh tekanan sejak awal.
Jika DR Congo berhasil memenangkan pertandingan, mereka akan bergabung dengan Portugal dan Kolombia yang sudah dipastikan lolos, sekaligus mencatat sejarah baru bagi sepak bola Afrika. Sebaliknya, kekalahan akan memupus harapan mereka dan menjadi akhir yang pahit bagi perjuangan tim asuhan Desabre. Pertanyaannya, akankah perubahan taktik ini cukup untuk mengatasi perlawanan sengit Uzbekistan yang juga berjuang untuk harga diri?



