Liam Rosenior Segera Kembali ke Bangku Pelatih, Kali Ini di Paris FC
Baca dalam 60 detik
- Mantan pelatih Chelsea, Liam Rosenior, dikabarkan telah menerima tawaran kontrak dua tahun dari Paris FC dengan opsi perpanjangan satu musim.
- Kepindahan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah ia dipecat Chelsea, yang kini digantikan oleh Xabi Alonso.
- Paris FC, yang dimiliki keluarga Arnault dan Red Bull, menunda pramusim demi menyelesaikan negosiasi dengan Rosenior.

Liam Rosenior, yang hanya bertahan kurang dari empat bulan sebagai pelatih Chelsea pada awal tahun ini, dikabarkan segera kembali ke dunia kepelatihan. Klub Ligue 1, Paris FC, telah menawarinya kontrak berdurasi dua tahun dengan opsi perpanjangan satu musim tambahan.
Rosenior, 41 tahun, diangkat sebagai pengganti Enzo Maresca di Chelsea pada Januari lalu, namun dipecat pada April setelah hasil buruk. Kini, ia menjadi kandidat utama untuk menggantikan Antoine Kombouare di Paris FC, yang musim lalu finis di peringkat ke-11 Ligue 1. Manajemen Paris FC bahkan menunda persiapan pramusim selama sepekan untuk merampungkan penunjukan Rosenior.
Langkah ini bukan yang pertama bagi Rosenior di sepak bola Prancis. Sebelumnya, ia sukses menangani Strasbourg, klub saudara Chelsea di bawah kepemilikan BlueCo, selama 18 bulan. Di sana, ia juga mengasah kemampuan berbahasa Prancisnya. Karier kepelatihan seniornya dimulai di Derby County dan Hull City sebelum akhirnya menangani Chelsea.
Bagi Chelsea, pergantian pelatih terus berlanjut. Rosenior menjadi manajer permanen keenam dalam empat tahun terakhir di bawah kepemilikan BlueCo. Penggantinya, Xabi Alonsoโmantan pelatih Real Madrid dan Bayer Leverkusenโresmi memulai tugas pada 1 Juli. Chelsea musim lalu finis di peringkat ke-10 Premier League, sementara Maresca kini menangani Manchester City setelah hengkang dari Chelsea pada Tahun Baru.
Keputusan Paris FC merekrut Rosenior menunjukkan ambisi klub yang dimiliki keluarga Arnault (pemilik LVMH) dan Red Bull untuk bangkit. Kombouare gagal membawa tim ke papan atas, dan Rosenior diharapkan membawa pengalaman serta pendekatan modern yang ia tunjukkan di Strasbourg. Bagi Rosenior, ini adalah kesempatan membangun reputasi kembali setelah kegagalan singkat di Chelsea.
Dari perspektif Indonesia, pergerakan pelatih di Eropa kerap menjadi perhatian penggemar sepak bola tanah air, terutama yang mengikuti Liga Prancis. Kehadiran Rosenior di Paris FC bisa menambah daya tarik liga tersebut, yang juga diikuti oleh pemain Timnas Indonesia seperti Egy Maulana Vikri (klub lain). Namun, belum ada dampak langsung bagi sepak bola Indonesia selain sebagai bahan diskusi taktik dan strategi.
Ke depannya, tantangan Rosenior adalah membawa Paris FC bersaing di papan atas Ligue 1 dan mungkin menembus zona Eropa. Dengan dukungan finansial pemilik baru, target itu bukan mustahil. Namun, tekanan akan besar mengingat pengalaman buruknya di Chelsea. Mampukah ia membuktikan diri sebagai pelatih yang konsisten?



