Gelato Legendaris Singapura Tom's Palette Tutup Setelah 21 Tahun: Industri Dessert Hanya Untung 3 Jam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Tom's Palette, gerai gelato asal Singapura, akan menutup seluruh outletnya pada pertengahan hingga akhir Oktober setelah 21 tahun beroperasi, dengan alasan pendapatan yang tidak mencukupi.
- Manajer umum Faith Yap mengungkapkan bahwa industri dessert hanya menguntungkan selama tiga jam per hari, tidak cukup untuk menutup biaya operasional 21 jam lainnya.
- Penutupan ini memicu kesedihan pelanggan setia dan menjadi bagian dari tren penutupan bisnis F&B di Singapura, sementara tim membuka peluang bagi pihak yang ingin mengambil alih.

Setelah 21 tahun menghiasi kancah kuliner Singapura, gerai gelato rumahan Tom's Palette mengumumkan penutupan seluruh outletnya di Bugis dan Kovan pada pertengahan hingga akhir Oktober. Kabar ini disampaikan langsung oleh manajer umum Faith Yap melalui unggahan Instagram, menyebut bahwa pendapatan bisnis dessert tersebut tidak lagi mampu menopang operasional.
Yap mengungkapkan bahwa meskipun penjualan sempat membaik sejak April lalu, angka tersebut tetap tidak cukup untuk menutup biaya operasional harian. "Saya yakin banyak yang menganggap kami bisnis yang sukses. Namun kenyataannya, industri dessert hanya ramai selama tiga jam sehari, dan itu tidak cukup untuk membayar 21 jam lainnya ketika pengunjung sepi," ujarnya dalam video yang penuh emosi.
Penutupan ini bukan sekadar akhir dari sebuah gerai es krim, melainkan cermin dari tantangan struktural yang dihadapi pelaku usaha kuliner, terutama di negara dengan biaya sewa dan tenaga kerja tinggi seperti Singapura. Tom's Palette, yang memulai perjalanannya di Shaw Tower pada 2005 dengan pendapatan awal hanya S$30 per hari, telah membangun basis pelanggan setia yang kini merasa kehilangan.
Bagi pelaku industri kuliner di Indonesia, kabar ini menjadi pelajaran berharga. Model bisnis dessert yang hanya mengandalkan jam-jam tertentu sangat rentan terhadap fluktuasi pengunjung. Di Jakarta, misalnya, banyak gerai es krim atau dessert kekinian yang juga berjuang mempertahankan eksistensi di tengah maraknya kompetisi dan perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih layanan antar.
Yap juga menegaskan bahwa timnya terbuka untuk berdiskusi dengan pihak yang berminat mengambil alih Tom's Palette. "Kami benar-benar sudah mencoba, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kami atasi sendiri. Sulit untuk tetap positif, tapi mari kita nikmati sisa waktu bersama," tambahnya.
Reaksi pelanggan pun membanjiri media sosial, dengan banyak yang menyebut penutupan ini sebagai "menghancurkan". Seorang warganet menulis, "Ini toko es krim favorit saya sepanjang masa. Saya telah berkunjung sejak masa kuliah hingga berbagai fase kehidupan saya." Komentar lain menyoroti tren yang lebih luas: "Ruang berkumpul kita semakin hilang, semuanya kini serba bawa pulang, semakin sedikit tempat untuk berkumpul dengan teman dan keluarga."
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Singapura. Di Indonesia, ruang publik seperti kafe dan restoran juga mulai kehilangan fungsi sosialnya, tergantikan oleh layanan pesan-antar. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan lebih banyak lagi gerai legendaris yang menutup tirai, meninggalkan pertanyaan: akankah industri kuliner mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, atau justru kehilangan esensi kehangatan yang selama ini ditawarkannya?



