Gumuk Jember Kian Tergerus, Komunitas Anak Muda Menggelar Perlawanan Lewat Seni dan Riset
Baca dalam 60 detik
- Komunitas Sudut Kalisat di Jember menginisiasi kampanye penyelamatan gumuk, bukit vulkanik purba yang terancam oleh aktivitas tambang dan alih fungsi lahan.
- Melalui riset arsip, pameran seni, dan program Kalisat Tempo Dulu, mereka berupaya membangun kembali kesadaran ekologis dan identitas budaya warga terhadap bentang alam setempat.
- Akademisi dari berbagai negara yang mengikuti program CHRM2 Universitas Jember turut mendukung, menyoroti tanggung jawab negara dalam melindungi lingkungan dan mendorong kebijakan berkelanjutan.

Di tengah deru truk pengangkut batu dan pasir yang kian sering melintasi Jember, sekelompok anak muda justru memilih jalan berbeda: merawat ingatan. Mereka adalah Sudut Kalisat, komunitas yang sejak beberapa tahun terakhir giat mengkampanyekan penyelamatan gumuk—bukit-bukit kecil vulkanik yang menjadi ciri khas wilayah tersebut. Bagi mereka, mempertahankan gumuk bukan sekadar soal bentang alam, melainkan menjaga denyut sejarah dan identitas sebuah daerah yang perlahan memudar.
Kegelisahan itu berakar dari kenyataan pahit: setiap tahun, puluhan gumuk diratakan untuk kepentingan ekonomi. Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat, menuturkan bahwa gumuk dulu adalah ruang bermain dan sumber kehidupan. Kini, yang tersisa hanyalah cerita dan truk-tuk yang hilir mudik. “Gumuk dulu menjadi ruang bermain kami, tempat bertemu teman, mencari buah dan kayu bakar. Sekarang yang lebih sering terlihat justru truk yang mengangkut batu dan pasir,” ujarnya pada Kamis (30/7/2026).
Fenomena ini memantik pertanyaan besar: bagaimana sebuah lanskap yang secara geologis terbentuk jutaan tahun lalu bisa lenyap dalam hitungan dekade? Para ahli menyebut gumuk sebagai endapan debris avalanche—longsoran vulkanik raksasa yang terjadi ketika Gunung Raung purba runtuh. Peristiwa itu, yang berlangsung sekitar 60 kilometer dari puncak, menghasilkan hamparan ribuan bukit kecil yang kini menyelimuti hampir seluruh Jember. Dari 31 kecamatan, hanya tiga yang tidak memiliki sebaran gumuk, menjadikannya ekosistem unik yang tak ternilai.
Namun, nilai ekologis itu kerap kalah oleh hitungan ekonomi jangka pendek. Banyak pemilik lahan tergiur menjual gumuk karena imbalan tunai yang menggiurkan, sementara belum ada skema perlindungan yang memadai dari pemerintah. Al Khanif, Ketua Center for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Universitas Jember, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa dibebankan semata kepada masyarakat. “Lingkungan rusak itu sebenarnya tanggung jawab negara. Masyarakat hanya turut serta. Selama ini negara membiarkan, padahal kalau tambang terus dilakukan, bencana ekologis pasti terjadi,” katanya.
Menghadapi kompleksitas itu, Sudut Kalisat memilih pendekatan yang lebih halus namun mendalam: membangun kembali “percakapan” antara manusia dan lingkungan. Iqbal menjelaskan, pengetahuan lokal, toponimi, hingga cerita rakyat adalah bentuk dialog panjang yang selama ini terputus. “Kalau kita bicara soal bertahan hidup, sebenarnya manusia selalu bercakap dengan lingkungannya. Ketika percakapan berhenti, hubungan kita dengan alam ikut terputus,” tuturnya. Melalui riset arsip dan pameran seni seperti “Batuan Berkisah”, mereka mencoba menghadirkan batu sebagai arsip geologi yang menyimpan sejarah bumi, sekaligus memantik pertanyaan publik tentang pentingnya menjaga lanskap.
Langkah ini mendapat sambutan dari kalangan akademisi internasional. Grace Chang, Guru Besar Ilmu Politik dari San Diego State University, menilai pendekatan seni dan pembelajaran lapangan mampu mendekatkan isu lingkungan ke masyarakat. “Sangat penting bagi generasi muda mengenal daerahnya sendiri dan menjadi bagian aktif dari komunitasnya,” ujarnya. Sementara itu, Femida Kamal, mahasiswa magister asal Korea Selatan, menggarisbawahi bahwa krisis lingkungan adalah tantangan global yang menuntut aksi kolektif. “Ini bukan hanya masalah Indonesia, tetapi masalah dunia. Generasi muda harus berani bersuara dan memilih cara hidup yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Bagi Sudut Kalisat, perjuangan ini bukan tentang menolak semua aktivitas tambang. Mereka sadar, di balik setiap gumuk yang rata terdapat persoalan kepemilikan lahan, kebutuhan ekonomi keluarga, dan lemahnya tata kelola ruang. Karena itu, mereka memilih memulai dari hal paling mendasar: kesadaran. Iqbal menegaskan, “Kami tidak bisa hanya menyalahkan masyarakat. Mereka hidup dalam situasi tertentu. Yang harus dibangun lebih dulu adalah kesadaran bersama bahwa gumuk bukan sekadar tanah yang bisa dijual.”
Pertanyaannya kini, akankah kesadaran itu cukup untuk menghentikan laju kerusakan? Atau justru dibutuhkan kebijakan yang lebih tegas, seperti insentif bagi pemilik lahan yang mempertahankan gumuk? Sudut Kalisat berharap, melalui Kalisat Tempo Dulu ke-11 pada Oktober mendatang, semakin banyak warga yang tergerak membaca lanskapnya sendiri sebelum semuanya hanya tinggal nama jalan dan cerita lama.



