Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Tembus 1.430, Tim Asing Berdatangan
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi kembar berkekuatan 7,2 dan 7,5 SR di Venezuela menewaskan sedikitnya 1.430 orang dan memicu ratusan gempa susulan.
- Lebih dari 1.600 personel penyelamat asing telah tiba di lokasi terdampak, namun warga mengeluhkan minimnya alat berat dan lambatnya respons resmi.
- Bencana ini berpotensi memicu dampak politik bagi tokoh oposisi yang pernah menjabat wakil presiden, serta mendorong paket bantuan AS senilai sembilan digit.

Jumlah korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pekan lalu terus bertambah, menembus angka 1.430 jiwa pada Sabtu (27/6) seiring masuknya tim penyelamat asing ke wilayah pesisir yang paling parah terdampak. Pemerintah setempat masih berupaya menjangkau korban selamat di tengah kondisi bangunan yang runtuh dan ancaman gempa susulan yang tak kunjung reda.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi pada Rabu lalu telah meluluhlantakkan kawasan La Guaira dan sebagian Caracas. Warga dan relawan selama berhari-hari bergotong royong menggali puing dengan tangan, mengeluhkan minimnya alat berat serta keterbatasan personel resmi di lapangan. Lebih dari 1.600 tenaga penyelamat dari berbagai negara telah dikerahkan, dan tim tambahan masih dalam perjalanan.
Pejabat tinggi negara Jorge Rodriguez dalam pernyataan di televisi nasional mengonfirmasi korban tewas mencapai 1.430 orang, ribuan lainnya luka-luka, dan ribuan keluarga telah dipindahkan ke tempat penampungan. Rodriguez juga mengingatkan bahwa gempa susulan masih kerap terjadi, memperumit upaya evakuasi di medan yang labil.
Otoritas masih membatasi akses ke La Guaira dan memberlakukan pemeriksaan ketat di jalan utama dari Caracas. Kendaraan darurat diprioritaskan, sementara warga sipil tanpa kredensial dilarang melintas. Jaringan listrik di wilayah terdampak perlahan pulih, meskipun Venezuela selama ini sudah bergulat dengan pemadaman listrik bergilir akibat infrastruktur yang bobrok dan sanksi ekonomi.
Survei Geologi AS memperkirakan potensi kematian bisa melampaui 10.000 jiwa, menjadikan gempa ini salah satu yang paling mematikan di Amerika Latin dalam seabad terakhir. Di sisi lain, situs yang dipromosikan oposisi mencatat lebih dari 55.000 orang belum ditemukan, jauh melampaui angka resmi pemerintah.
Bencana ini juga berpotensi mengguncang panggung politik. Rodriguez, yang kini mencalonkan diri sebagai figur perubahan, sebelumnya menjabat wakil presiden di bawah Nicolas Maduro—mantan presiden yang digulingkan dan ditangkap AS pada Januari lalu. Tekanan domestik dan internasional bisa menguji kredibilitasnya.
Dari Vatikan, Paus Leo menyampaikan doa bagi para korban dan berharap solidaritas global terhadap Venezuela tetap terjaga. Sementara itu, Amerika Serikat telah mengirimkan bantuan dan berencana mengumumkan paket pendanaan sembilan digit dalam waktu dekat, di luar komitmen US$150 juta yang sudah digelontorkan pemerintahan Trump. Namun, upaya pemimpin oposisi Maria Corina Machado yang mendesak bantuan AS untuk kembali ke Venezuela justru membuat frustrasi pejabat Washington, yang menilai langkah tersebut terlalu dini pascabencana.
Dengan ribuan orang masih terperangkap dan kondisi darurat yang terus berkembang, pertanyaan besar kini mengemuka: mampukah pemerintah Venezuela mengelola krisis ini di tengah keterbatasan sumber daya dan tekanan politik yang membelit?



