Cuaca Ekstrem Diduga Picu Kebakaran TPA Jatiwaringin, BPBD Kerahkan 10 Mobil Damkar
Baca dalam 60 detik
- BPBD Tangerang menduga suhu panas ekstrem memicu gas metana di TPA Jatiwaringin hingga terbakar.
- Sepuluh unit mobil pemadam dan 45 personel dikerahkan, namun medan tumpukan sampah menghambat pemadaman.
- Kebakaran ini menyoroti risiko TPA di Indonesia yang rentan terbakar akibat gas metana dan cuaca ekstrem.

Kebakaran melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Selasa (30/6) sekitar pukul 11.00 WIB, diduga dipicu oleh cuaca panas ekstrem yang memicu ledakan gas metana dari timbunan sampah. Hingga sore hari, api masih berkobar dan petugas berjibaku melakukan pemadaman agar tidak meluas ke area permukiman sekitar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa suhu tinggi yang berkepanjangan menjadi pemicu utama. "Tumpukan sampah yang sudah bertahun-tahun mengandung gas metana. Apabila sudah panas yang ekstrem, maka gas itu bisa menjadi api," ujarnya di lokasi kejadian. Gas metana, yang mudah terbakar, terbentuk secara alami dari dekomposisi sampah organik, dan cuaca panas mempercepat proses akumulasi gas hingga mencapai titik nyala.
BPBD mengerahkan 10 unit mobil pemadam kebakaran dan 45 personel untuk menjinakkan api. Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala serius. Taufik mengungkapkan bahwa embusan angin kencang mempercepat penyebaran api, sementara medan berupa tumpukan sampah yang menggunung menyulitkan akses mobil pemadam ke titik api. "Kalau untuk suplai air kita tidak terkendala, hanya medannya saja cukup sulit karena timbunan sampah ini seperti gunung, mobil kami tidak bisa menjangkau sampai ke titik api," jelasnya. Asap pekat juga mengganggu pandangan petugas, memperlambat proses pemadaman.
Kebakaran TPA bukanlah peristiwa langka di Indonesia. Sejumlah TPA di berbagai daerah, seperti TPA Bantar Gebang dan TPA Piyungan, juga pernah mengalami kebakaran serupa akibat akumulasi gas metana. Fenomena ini diperparah oleh perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah per tahun, dengan mayoritas di antaranya berakhir di TPA yang tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini menjadikan TPA sebagai "bom waktu" yang rawan terbakar, terutama saat musim kemarau.
Implikasi dari kebakaran ini tidak hanya pada kerugian materi, tetapi juga dampak lingkungan dan kesehatan. Asap kebakaran mengandung partikel berbahaya yang dapat mengganggu pernapasan warga sekitar. Selain itu, kebakaran TPA melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar, memperburuk perubahan iklim. Achmad Taufik menyatakan bahwa koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD daerah sekitar akan dilakukan sesuai perkembangan situasi. "Bisa dimungkinkan kita meminta bantuan, kita lihat situasi sementara ini. Tetapi kalau unitnya sama, sebetulnya mobil kita sudah cukup, hanya medannya yang cukup sulit," katanya.
Ke depan, peristiwa ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pengelolaan TPA, termasuk sistem ventilasi gas metana dan pemadaman dini. Apakah kebakaran TPA Jatiwaringin akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan sampah di Indonesia, atau hanya menjadi catatan kaki dalam siklus bencana tahunan?



