Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, 45 Personel Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Tangerang, belum padam setelah lebih dari 24 jam, dengan sembilan unit mobil damkar dikerahkan.
- BPBD Kabupaten Tangerang mengerahkan 45 personel untuk menjinakkan api yang diduga dipicu gas metana dari tumpukan sampah.
- Insiden ini menyoroti kerentanan pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga Selasa (30/6) malam belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mengerahkan sembilan unit mobil pemadam kebakaran dan 45 personel untuk menjinakkan api yang terus membara di area seluas beberapa hektare.
Kebakaran ini pertama kali terdeteksi pada Senin (29/6) sore dan hingga berita ini diturunkan, api masih terlihat di sejumlah titik. Petugas dari BPBD dibantu oleh dinas pemadam kebakaran dan relawan terus berupaya memblokade penyebaran api dengan membuat sekat bakar serta menyemprotkan air secara bergilir. Kondisi medan yang berbukit dan akses jalan yang sempit menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
TPA Jatiwaringin merupakan salah satu tempat pembuangan akhir terbesar di Kabupaten Tangerang yang menerima ribuan ton sampah setiap harinya. Tumpukan sampah yang menggunung dan cuaca panas ekstrem dalam beberapa pekan terakhir diduga menjadi pemicu munculnya titik api. Gas metana yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah organik kerap menjadi penyebab kebakaran di TPA, terutama saat musim kemarau.
Kebakaran TPA bukanlah fenomena baru di Indonesia. Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, setidaknya terjadi belasan insiden serupa di berbagai daerah, mulai dari TPA Bantar Gebang di Bekasi hingga TPA Talang Gulo di Jambi. Para ahli lingkungan menilai bahwa pengelolaan sampah yang belum optimal dan minimnya sistem pengolahan gas metana menjadi akar masalah. โKebakaran di TPA sebenarnya bisa dicegah dengan pengelolaan gas yang baik dan pemadatan sampah secara berkala,โ ujar seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, yang enggan disebutkan namanya.
Dampak kebakaran ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan warga sekitar. Asap tebal yang mengandung partikel berbahaya telah menyelimuti permukiman di radius beberapa kilometer. Warga diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. BPBD juga telah mendirikan posko kesehatan darurat untuk mengantisipasi gangguan pernapasan.
Ke depan, pemerintah Kabupaten Tangerang perlu mengevaluasi sistem pengelolaan TPA Jatiwaringin agar kejadian serupa tidak terulang. Investasi dalam teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau gasifikasi bisa menjadi solusi jangka panjang. Namun, tanpa komitmen politik dan anggaran yang memadai, kebakaran TPA kemungkinan akan terus menjadi ancaman musiman. Pertanyaannya, akankah insiden kali ini mendorong perubahan kebijakan yang berarti?



