Roma Dorong Matias Soulé ke Arab Saudi demi Selamatkan Keuangan Klub
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A Roma berupaya menjual Matias Soulé ke Al-Ahli atau Al-Diraiyah dengan nilai transfer €30 juta plus bonus.
- Penjualan ini menjadi krusial bagi Roma untuk memenuhi aturan Financial Fair Play sebelum batas waktu 30 Juni.
- Soulé yang awalnya ragu kini mulai terbuka dengan tawaran gaji €12 juta per musim dari Liga Pro Saudi.

AS Roma semakin mendekatkan diri pada keputusan melepas pemain sayap Argentina, Matias Soulé, ke Liga Pro Saudi. Dua klub, Al-Ahli dan Al-Diraiyah, dikabarkan siap menggelontorkan dana €30 juta ditambah bonus untuk mengamankan jasa pemain berusia 23 tahun tersebut, dengan gaji mencapai €12 juta per musim.
Langkah ini bukan sekadar strategi transfer biasa. Bagi Roma, penjualan Soulé menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan keuangan klub sebelum tenggat waktu 30 Juni. Aturan Financial Fair Play (FFP) yang ketat memaksa I Giallorossi untuk segera mencatatkan keuntungan dari penjualan pemain. Dengan harga beli Soulé dari Juventus sebesar €28,6 juta pada 2024, penjualan sebesar €30 juta akan memberikan keuntungan bersih sekitar €15 juta—sebuah suntikan likuiditas yang vital.
Keputusan melepas Soulé juga dipengaruhi oleh performanya yang kurang konsisten di bawah asuhan pelatih Gian Piero Gasperini. Pemain yang direkrut dengan ekspektasi tinggi itu gagal menemukan ritme permainan dan kerap kesulitan beradaptasi dengan skema taktik Gasperini. Alhasil, ia ditempatkan dalam daftar jual, namun hanya klub-klub Arab Saudi yang bersedia membayar harga yang diminta Roma.
Sebelumnya, Soulé dilaporkan enggan meninggalkan Eropa di usia yang masih muda. Namun, menurut laporan Il Romanista, pemain kelahiran Mar del Plata itu kini mulai melunak. Tawaran kontrak senilai €12 juta per musim—jauh di atas pendapatannya saat ini—menjadi faktor utama yang mengubah pikirannya. Dua klub Saudi, Al-Ahli dan Al-Diraiyah, diperkirakan akan mengajukan proposal resmi kepada Roma pada akhir pekan ini.
Fenomena ini kembali menegaskan daya tarik finansial Liga Pro Saudi yang kian agresif memburu talenta muda Eropa. Sejak kedatangan Cristiano Ronaldo, liga tersebut menjelma menjadi destinasi menggiurkan dengan gaji super tinggi. Bagi pemain seperti Soulé yang belum mencapai puncak karier, keputusan pindah ke Timur Tengah kerap dianggap sebagai langkah mundur secara kompetitif. Namun, tekanan finansial klub dan iming-iming pendapatan berkali-kali lipat seringkali sulit ditolak.
Dari sudut pandang Indonesia, pergerakan bursa transfer ini menarik untuk dicermati. Meski tak ada kaitan langsung dengan sepak bola nasional, pola yang sama—klub Eropa menjual aset mudanya ke liga kaya minyak—bisa menjadi preseden bagi pemain Asia Tenggara. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pemain Indonesia yang mentas di Eropa suatu hari menghadapi dilema serupa: bertahan di kompetisi ketat dengan gaji standar, atau merantau ke Saudi demi kesejahteraan finansial jangka pendek.
Bagi Roma, keberhasilan menjual Soulé akan memberikan ruang napas untuk berinvestasi di bursa transfer berikutnya. Namun, kehilangan pemain muda potensial juga berarti mengorbankan masa depan demi stabilitas saat ini. Pertanyaan besarnya: apakah langkah ini akan menjadi solusi jangka panjang atau justru menjebak Roma dalam siklus jual-beli pemain tanpa membangun fondasi tim yang solid?



