Zlatan Ibrahimovic Kecam Koeman Usai Belanda Tersingkir: Pelatih Italia Terselubung
Baca dalam 60 detik
- Zlatan Ibrahimovic mengecam Ronald Koeman yang dianggap mengkhianati identitas sepak bola Belanda dengan bermain defensif saat kalah adu penalti dari Maroko di Piala Dunia 2026.
- Menurut Ibrahimovic, gaya Koeman yang 'bermain untuk tidak kalah' lebih mirip pendekatan khas Italia, bukan filosofi ofensif Belanda yang seharusnya diusung.
- Kritik ini menyoroti dilema pelatih top dunia: antara mempertahankan identitas atau beradaptasi demi hasil, sebuah perdebatan yang juga relevan bagi sepak bola Indonesia.

Legenda sepak bola Swedia yang kini menjabat sebagai Penasihat Senior pemilik AC Milan, Zlatan Ibrahimovic, melontarkan kritik pedas kepada pelatih tim nasional Belanda, Ronald Koeman, setelah De Oranje tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Ibrahimovic menilai Koeman telah meninggalkan identitas sepak bola Belanda yang selama ini dikenal agresif dan menyerang, justru menerapkan strategi bertahan ala Italia yang berujung pada kekalahan adu penalti dari Maroko.
Dalam wawancara yang dikutip Football Italia, Ibrahimovic mengaku sangat kecewa dengan performa Belanda. “Saya super kecewa karena ini bukan sekolah Belanda. Anda belajar cara bermain sepak bola. Satu-satunya hal yang mereka ajarkan kepada saya adalah menyerang dan menyerang. Ini bukan identitas mereka,” ujar Ibrahimovic. Ia menambahkan bahwa Koeman tampil seperti pelatih Italia yang hanya bermain untuk tidak kalah, bukan untuk menang.
Kritik Ibrahimovic muncul setelah Belanda takluk 2-4 dalam adu penalti melawan Maroko, setelah bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit. Sepanjang turnamen, Belanda tampil inkonsisten: hanya mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan fase grup, dan gagal memanfaatkan kedalaman skuad yang dihuni pemain-pemain seperti Memphis Depay, Frenkie de Jong, dan Virgil van Dijk. Striker Roma, Donyell Malen, bahkan tidak dimainkan sama sekali saat melawan Maroko dan pulang tanpa gol.
Pernyataan Ibrahimovic memicu perdebatan tentang identitas sepak bola nasional. Bagi Belanda, filosofi “Total Football” yang mengedepankan serangan total dan pressing tinggi sudah menjadi warisan sejak era Johan Cruyff. Namun, di era modern, banyak pelatih Belanda mulai pragmatis, termasuk Koeman yang sebelumnya sukses membawa Belanda ke semifinal Piala Dunia 2014 dengan pendekatan lebih fleksibel. Kritik Ibrahimovic seolah menegaskan bahwa adaptasi taktik tidak boleh menghilangkan jati diri.
Bagi Indonesia, kritik ini relevan dalam konteks pembinaan sepak bola nasional. Seringkali pelatih asing atau lokal dihadapkan pada tekanan hasil instan sehingga meninggalkan filosofi jangka panjang. “Pelajaran dari Belanda adalah bahwa identitas bermain harus dijaga, meski hasil tidak selalu berpihak. Jika kita ingin bersaing di level Asia, konsistensi filosofi lebih penting daripada sekadar menang sesaat,” ujar analis sepak bola Indonesia, Tommy Welly, dalam keterangannya.
Koeman sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas kritik Ibrahimovic. Namun, ia sebelumnya menegaskan bahwa timnya telah bermain sesuai rencana dan hanya kurang beruntung di babak adu penalti. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Belanda kembali ke akar sepak bola menyerang di bawah asuhan Koeman, atau justru akan semakin pragmatis di turnamen-turnamen mendatang?



