Arsenal Siapkan Dana Rp2 Triliun untuk Rekrut Sandro Tonali, Alternatif Lebih Muda dari Bruno Guimaraes
Baca dalam 60 detik
- Arsenal dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan perwakilan Sandro Tonali setelah tawaran awal untuk Bruno Guimaraes ditolak Newcastle.
- Gelandang Italia berusia 26 tahun itu dibanderol sekitar £100 juta, setara dengan harga yang diminta Newcastle untuk kapten mereka.
- Tonali dinilai lebih cocok secara jangka panjang karena usianya lebih muda dan gaya bermainnya yang disiplin, berpotensi menjadi duet ideal dengan Declan Rice.

Arsenal tidak hanya membidik Bruno Guimaraes sebagai target utama lini tengah musim depan. Klub asal London Utara itu dilaporkan juga telah mengadakan pembicaraan dengan agen Sandro Tonali, gelandang Newcastle United yang juga menjadi incaran Tottenham Hotspur.
Menurut jurnalis BBC Sami Mokbel, Arsenal sudah menjajaki kemungkinan merekrut Tonali setelah tawaran perdana sebesar £60 juta untuk Guimaraes ditolak oleh Newcastle. Meski belum mengajukan proposal resmi, The Gunners disebut terus memperbaiki syarat-syarat kesepakatan. Langkah ini menunjukkan bahwa direktur teknis Andrea Berta dan manajer Mikel Arteta memiliki rencana cadangan yang tak kalah menarik.
Tonali, yang bergabung dengan Newcastle dari AC Milan pada 2023, diperkirakan membutuhkan biaya transfer sekitar £100 juta—angka yang sejajar dengan banderol Guimaraes. Namun, perbedaan usia hampir tiga tahun membuat Tonali dinilai sebagai investasi jangka panjang yang lebih bijak. Guimaraes akan menginjak usia 30 tahun dalam waktu dekat, sementara Tonali baru 26 tahun dan masih berada di puncak karier.
Menurut analis sepak bola Andy Sixsmith, Tonali dijuluki "mesin pressing" di Tyneside berkat kemampuan merebut bola dan daya jelajahnya yang luar biasa. Gelandang timnas Italia itu dikenal sebagai orkestrator yang mampu menghubungkan lini pertahanan dan serangan dengan cerdas. Meski tidak seproduktif Guimaraes dalam mencetak gol, pendekatan tenang dan kalkulatif Tonali justru bisa memberi keseimbangan bagi lini tengah Arsenal yang sudah memiliki Declan Rice.
Rice sendiri mencatatkan 17 peluang emas di Premier League musim lalu. Kombinasi antara ketenangan Tonali dan agresivitas Rice berpotensi menciptakan duet yang sulit ditembus, sekaligus membebaskan gelandang serang seperti Martin Odegaard untuk lebih kreatif. Bagi Arsenal yang kini berstatus juara bertahan, mempertahankan gelar membutuhkan kedalaman skuad dan pilihan taktik yang variatif.
Dari sudut pandang sepak bola Indonesia, perburuan Tonali dan Guimaraes menjadi cerminan bagaimana klub-klub Eropa kini berlomba mengamankan gelandang bertahan kelas dunia. Penggemar di Tanah Air yang mengikuti Premier League tentu menantikan siapa yang akhirnya mendarat di Emirates. Jika Arsenal berhasil mendapatkan Tonali, ini bisa menjadi sinyal bahwa klub tidak hanya mengejar nama besar, tetapi juga perencanaan jangka panjang—sebuah pelajaran yang relevan bagi klub-klub Indonesia dalam membangun skuad kompetitif.
Keputusan akhir ada di tangan Arteta dan Berta: merekrut bintang Brasil yang sudah matang atau memilih prospek Italia yang lebih muda dengan potensi pengabdian lebih lama. Pertarungan transfer ini belum selesai, dan langkah Arsenal selanjutnya akan menentukan apakah mereka mampu mempertahankan mahkota Premier League lebih dari satu musim.



