Malawi dan Kamerun Bersiap Ukir Sejarah di Final Piala Afrika Wanita
Baca dalam 60 detik
- Malawi menaklukkan Aljazair 3-1 dan melaju ke final Piala Afrika Wanita, menyingkirkan juara bertahan Nigeria dan Ghana dalam perjalanan bersejarah mereka.
- Kamerun menghentikan langkah tuan rumah Maroko lewat adu penalti dramatis, dengan kiper Michaely Bihina menjadi pahlawan setelah menyelamatkan tiga tendangan.
- Partai puncak di Rabat akhir pekan ini akan memastikan juara baru, mengingat gelar sebelumnya selalu diraih oleh Ekuatorial Guinea, Nigeria, atau Afrika Selatan.

Rabat, 13 Agustus โ Malawi memastikan tempat di final Piala Afrika Wanita setelah menundukkan Aljazair 3-1 pada laga semifinal, Rabu (13/8). Keberhasilan ini menegaskan status mereka sebagai kuda hitam turnamen, setelah sebelumnya menyingkirkan juara bertahan Nigeria dan Ghana. Di partai puncak, mereka akan berhadapan dengan Kamerun yang secara dramatis mengalahkan tuan rumah Maroko lewat adu penalti.
Bagi Malawi, pencapaian ini adalah sejarah tersendiri. Ini merupakan penampilan perdana mereka di putaran final, dan mereka langsung melaju hingga partai puncak. Perjalanan mereka dimulai dengan kemenangan mengejutkan atas Nigeria di laga pembuka grup, kemudian diikuti dengan kemenangan tipis atas Ghana di perempat final. Kini, mereka berpeluang menciptakan kejutan terbesar dengan merebut gelar juara.
Kamerun, di sisi lain, harus bekerja keras melewati hadangan Maroko. Setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit, laga berlanjut ke adu penalti. Kiper Kamerun, Michaely Bihina, tampil gemilang dengan menggagalkan tiga tendangan penalti pemain Maroko, sebelum remaja Myriam Nyadjou sukses mengeksekusi penalti penentu kemenangan. Sebelumnya, Maroko sempat mendapat hadiah penalti kontroversial dua menit sebelum akhir perpanjangan waktu setelah tinjauan VAR, namun tendangan Fatima Tagnaout berhasil diselamatkan.
Dengan hasil ini, final yang akan digelar Minggu (16/8) di Rabat dipastikan melahirkan juara baru. Sepanjang sejarah Piala Afrika Wanita, gelar selalu diraih oleh Ekuatorial Guinea, Nigeria, atau Afrika Selatan. Malawi dan Kamerun sama-sama belum pernah merasakan trofi ini, sehingga partai puncak kali ini menjadi ajang pembuktian bagi kedua tim.
Kemenangan Malawi tidak lepas dari performa impresif duet kakak-beradik Chawinga. Tabitha mencetak dua gol, sementara adiknya, Temwa, menyumbang satu gol. Satu-satunya gol balasan Aljazair dicetak oleh Ikram Adjabi. Ketajaman lini depan Malawi menjadi modal berharga menghadapi pertahanan Kamerun yang solid, yang baru kebobolan dua gol sepanjang turnamen.
Bagi Indonesia, keberhasilan Malawi dan Kamerun menjadi cermin bahwa sepak bola wanita di Afrika berkembang pesat. Meski tidak terlibat langsung, prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola wanita di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Investasi pada pembinaan usia muda dan kompetisi domestik yang kompetitif terbukti mampu melahirkan tim-tim kuat, seperti yang ditunjukkan Malawi yang tampil percaya diri di turnamen besar.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Malawi mampu menyelesaikan misi kejutannya dengan merebut trofi, atau Kamerun yang akan memanfaatkan pengalaman dan soliditas pertahanan mereka? Satu hal yang pasti, final ini akan menjadi tontonan menarik dan sejarah baru bagi sepak bola wanita Afrika.



