Dewa Laut Taiwan Menjadi Magnet Wisata: Kota Tuna Oma Jepang Berharap Dampak Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Kota Oma di Aomori, Jepang, mempererat hubungan dengan kuil Taiwan melalui pemujaan dewi Mazu, yang diyakini membawa keberuntungan bagi nelayan setempat.
- Sejak diperkenalkannya prosesi ala Taiwan pada 1996, hasil tangkapan tuna di Oma melonjak drastis, dari 22 ton menjadi 173 ton dalam dua tahun.
- Pemerintah kota berencana memanfaatkan daya tarik Mazu untuk menarik wisatawan asing, termasuk melalui promosi jalur feri dari Hakodate.

Kota nelayan Oma di ujung utara Pulau Honshu, Jepang, yang selama ini dikenal sebagai penghasil tuna sirip biru premium, kini berupaya memanfaatkan ikatan spiritual dengan dewi laut Taoisme, Mazu, untuk menarik wisatawan mancanegara. Langkah ini diambil di tengah optimisme bahwa warisan budaya yang diakui UNESCO itu dapat menjadi daya tarik baru bagi daerah yang ekonominya sangat bergantung pada hasil laut.
Mazu, yang di Taiwan dieja Matsu dan di Jepang dikenal sebagai Maso atau Tempi, telah dipuja di Oma selama lebih dari tiga abad sebagai pelindung para nelayan dan pelaut. Uniknya, sejak era Meiji (1868-1912), dewi ini turut disembah di kuil Shinto setempat, menciptakan perpaduan keyakinan yang langka antara budaya Jepang dan dewa asing. Menurut Hiromi Metoki, pendeta kepala Kuil Oma Inari yang berusia 71 tahun, sosok Mazu pertama kali dibawa ke kota ini pada 1696 oleh Ito Gozaemon, seorang pejabat lokal yang berkecimpung di bidang transportasi laut, dari benteng pantai wilayah Mito di Jepang timur.
Oma, yang terletak di Prefektur Aomori, terkenal dengan lelang perdana tuna sirip biru Pasifik yang harganya bisa mencapai 100 juta yen (sekitar Rp10,5 miliar) per ekor. Namun, kejayaan itu sempat meredup. Pada 1986, tangkapan tahunan merosot hingga hanya beberapa ratus kilogram, dan meskipun sempat pulih, pada 1995 produksinya masih rendah, hanya sekitar 22 ton. Titik balik terjadi pada 1996 ketika kota ini mengadopsi prosesi ala Taiwan untuk Mazu, setelah menerima patung baru dan perlengkapan festival dari Kuil Beigang Chao-Tian di Kabupaten Yunlin, Taiwan, yang dianggap sebagai pusat pemujaan Mazu. Hasilnya, tangkapan melonjak menjadi sekitar 107 ton pada tahun itu dan 173 ton pada tahun berikutnya, menurut koperasi perikanan setempat.
Pada 20 Juli lalu, parade dan festival laut tahunan digelar untuk memohon hasil tangkapan melimpah. Di tengah gemuruh petasan dan dentuman gong, patung Mazu diarak keliling kota dengan sebuah pelampung, diiringi peserta yang mengenakan kostum warna-warni bergaya asing meniru dewa-dewi rakyat yang terkait dengan Mazu. Sekitar 20 perwakilan dari Kuil Beigang Chao-Tian turut hadir dalam acara tersebut. Mazu sendiri tidak hanya dipuja di Taiwan, tetapi juga di Tiongkok daratan, Asia Tenggara, dan komunitas diaspora di seluruh dunia. Keyakinan dan adat istiadatnya telah tercatat dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Bagi Indonesia, fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana elemen budaya Tionghoa dapat berintegrasi dan menjadi daya tarik wisata. Di Indonesia, praktik serupa terlihat di beberapa kota seperti Singkawang dan Semarang, di mana akulturasi budaya Tionghoa dengan lokal menjadi magnet wisata. Namun, Oma menawarkan contoh unik di mana sebuah kota kecil di Jepang memanfaatkan warisan budaya asing untuk menghidupkan kembali perekonomiannya. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi daerah-daerah di Indonesia yang memiliki potensi serupa untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya.
Ketua Asosiasi Pariwisata Oma, Yoshinori Omi, menyatakan harapannya agar dewi laut ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kotanya dengan dunia. "Kami ingin menghargai dewi laut yang menghubungkan kota kami dengan dunia," ujarnya. Pemerintah kota berencana untuk mendorong perjalanan feri dari Hakodate, Hokkaido, yang merupakan kota populer di kalangan wisatawan asing, melintasi Selat Tsugaru. "Saya berharap kegembiraan dan kedekatan yang dirasakan orang terhadap Mazu di Oma dapat membantu menghidupkan kembali kota kami," tambah Omi.
Ke depan, keberhasilan Oma dalam menarik wisatawan akan sangat bergantung pada seberapa efektif mereka memasarkan keunikan budaya ini ke pasar global, termasuk Indonesia. Apakah kota kecil ini mampu mengulang kesuksesan ekonomi seperti yang terjadi pada sektor perikanannya? Atau justru pariwisata berbasis budaya ini akan menjadi sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab seiring dengan upaya Oma dalam mengembangkan potensi wisatanya.



