Kualitas Udara Malaysia Memburuk: 11 Wilayah Masuk Zona Tidak Sehat, Sarawak Terparah
Baca dalam 60 detik
- Sebelas wilayah di Malaysia mencatat indeks polusi udara di atas ambang sehat pada Kamis pagi, dengan Samarahan mencatat angka tertinggi 183.
- Sarawak mendominasi daftar wilayah terdampak, sementara Semenanjung Malaysia mencatat empat titik kritis termasuk Kuala Lumpur dan Putrajaya.
- Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak kabut asap lintas batas, mengingat pola musim kemarau yang kerap mempengaruhi kawasan Asia Tenggara.

KUALA LUMPUR โ Sebanyak 11 wilayah di Malaysia mencatatkan Indeks Pencemar Udara (IPU) pada level tidak sehat pada Kamis (13/8) pukul 09.00 waktu setempat. Sarawak menjadi negara bagian dengan wilayah terdampak terbanyak, menandakan kualitas udara yang kian memburuk di kawasan tersebut.
Data dari Sistem Pengurusan Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) menunjukkan Samarahan mencatat IPU tertinggi mencapai 183, disusul Serian 182, Kuching 176, serta Sarikei dan Sri Aman masing-masing 158. Sementara itu, Mukah dan Sibu sama-sama mencatat angka 152. Di Semenanjung Malaysia, empat wilayah masuk kategori tidak sehat: Johan Setia (154) dan Shah Alam (101) di Selangor, serta Kuala Lumpur (131) dan Putrajaya (104).
Kondisi ini menempatkan sebagian besar wilayah Malaysia pada status kualitas udara yang memprihatinkan. Dari total 68 stasiun pemantauan yang tersebar di seluruh negeri, 55 wilayah mencatat IPU sedang (51โ100), sementara hanya dua wilayah yang berhasil mencatat kualitas udara baik (di bawah 50). Skala IPU yang digunakan Malaysia mengikuti standar internasional: 0โ50 baik, 51โ100 sedang, 101โ200 tidak sehat, 201โ300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.
Memburuknya kualitas udara di Malaysia kerap dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berdekatan. Pola angin muson yang membawa asap lintas batas kerap menjadi pemicu utama. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian kebakaran lahan, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan domestik tetapi juga negara tetangga. Kerja sama regional dalam pemantauan dan penanggulangan kabut asap menjadi semakin krusial.
Menurut analis lingkungan, lonjakan IPU di Sarawak yang konsisten menunjukkan adanya sumber polusi signifikan di kawasan tersebut, kemungkinan dari kebakaran gambut yang sulit dipadamkan. "Kita perlu waspada terhadap potensi peningkatan lebih lanjut jika musim kemarau berlanjut," ujar seorang pengamat lingkungan yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa langkah mitigasi seperti pembatasan aktivitas luar ruangan dan penggunaan masker perlu segera disosialisasikan.
Dampak kesehatan dari paparan polusi udara level tidak sehat tidak bisa dianggap remeh. Partikel halus (PM2.5) dapat menembus paru-paru dan memicu gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma. Pemerintah Malaysia diharapkan segera mengeluarkan imbauan resmi dan menyiapkan langkah darurat jika angka IPU terus meningkat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kondisi ini akan memicu respons regional yang lebih terkoordinasi. Mengingat pola musim kemarau yang berulang, apakah negara-negara ASEAN mampu memperkuat mekanisme pencegahan kebakaran lahan secara kolektif? Jawabannya akan menentukan apakah warga di kawasan ini harus terus hidup di bawah bayang-bayang kabut asap setiap tahunnya.



