Nasib Tim Inggris di Ujung Tanduk: Tertinggal 204 Run dari Selandia Baru
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru unggul 204 run pada akhir hari ketiga setelah permukaan pitch yang retak membuat Inggris kehilangan 10 wicket hanya dalam satu sesi.
- Zak Foulkes, pemain pengganti karena cedera, menjadi momok dengan tiga wicket kunci termasuk Ben Stokes dan Harry Brook.
- Kekalahan di laga penentu ini bisa memperpanjang tren buruk Inggris dan memicu perubahan besar di tubuh manajemen tim.

Nasib Inggris dalam seri penentu melawan Selandia Baru di Trent Bridge menggantung setelah hari ketiga yang penuh drama dan kejutan. Tertinggal 204 run dengan tujuh wicket tersisa di tangan Kiwi, tuan rumah kini berada di ambang kekalahan yang bisa mengubah peta kekuasaan di tubuh manajemen tim.
Permukaan pitch yang mulai retak dan tidak karuan sejak pagi hari menjadi biang kerok utama. Setelah dua hari pertama hanya menyaksikan 12 wicket jatuh, Sabtu (10/6) menjadi panggung pembantaian dengan 11 wicket tumbang. Inggris yang memulai hari dengan harapan mengejar defisit 84 run, justru kehilangan tiga wicket kunci dalam enam over pertama tanpa tambahan berarti.
Joe Root (21) dan Jacob Bethell (74) gagal menambah skor semalam, sementara Jamie Smith hanya mampu mengumpulkan satu run. Harry Brook sempat memberikan perlawanan dengan 58 run, namun keruntuhan tiga wicket terakhir hanya dalam empat run membuat Inggris tertinggal 84 run pada inning pertama. Zak Foulkes, yang baru masuk sebagai pemain pengganti karena gegar otak Blair Tickner, menjadi mimpi buruk dengan tiga wicket termasuk Ben Stokes dan Brook.
Usai makan teh, Jofra Archer sempat membangkitkan harapan dengan dua wicket cepat, menjatuhkan Tom Latham dan Devon Conway. Namun, kedatangan Rachin Ravindra yang agresif (60* dari 81 bola) dan Daryl Mitchell (26*) yang bertahan kokoh memupus perlawanan Inggris. Kemitraan mereka yang belum terputus sejauh 69 run membuat Selandia Baru dalam posisi nyaman untuk menentukan kemenangan.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi pengingat betapa krusialnya kondisi lapangan dalam kriket. Di tengah minimnya perhatian terhadap olahraga ini di Tanah Air, pertandingan seperti ini bisa menjadi tontonan edukatif bagi penggemar kriket tanah air yang mulai tumbuh. Selain itu, performa Foulkes yang tampil gemilang sebagai pemain pengganti menunjukkan betapa pentingnya kedalaman skuad โ pelajaran berharga bagi pengembangan kriket nasional.
Kapten Ben Stokes sebelumnya mengakui timnya berada di bawah tekanan terbesar selama empat tahun kepemimpinannya. Jika Inggris kalah, catatan buruk hanya dua kemenangan dalam sepuluh laga terakhir akan semakin memperkuat kritik terhadap masa depan manajemen. "Ini mungkin akhir dari era Bazball," tulis media Inggris, merujuk pada gaya bermain agresif yang lahir dari kemenangan dramatis di lapangan yang sama pada 2022.
Dengan satu hari tersisa, Selandia Baru berpeluang besar menyapu bersih seri ini. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris membalikkan keadaan seperti tiga tahun lalu, atau justru ini menjadi titik balik yang mengakhiri era kepemimpinan Stokes?



