Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Sejak Februari: Pasokan Saudi-Iran Membludak
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI jatuh ke level terendah dalam empat bulan terakhir, dipicu oleh lonjakan ekspor dari Iran dan Saudi Arabia.
- Iran mengirim 20 juta barel minyak dalam sehari pada 19 Juni, menandai pemulihan lalu lintas tanker di Selat Hormuz setelah kesepakatan damai sementara AS-Iran.
- Peningkatan pasokan dari Teluk Persia menekan premi risiko geopolitik, namun ketidakpastian jangka panjang masih membayangi pemulihan.

Harga minyak mentah global jatuh ke titik terendah sejak akhir Februari, setelah Iran dan Arab Saudi secara agresif meningkatkan ekspor mereka. Brent ditutup di kisaran 71 dolar AS per barel pada Jumat lalu, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar 69 dolar AS—sebuah penurunan mingguan yang signifikan dan anjlok 30-40 persen dari puncak perang sebelumnya.
Penurunan ini didorong oleh pulihnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur transit energi paling kritis di dunia. Terminal Ras Tanura milik Saudi kembali beroperasi penuh, sementara Iran mencatat rekor ekspor dalam sehari. Menurut firma intelijen maritim TankerTrackers.com, Teheran telah mengekspor 40 juta barel minyak sejak 15 Juni, dengan separuhnya—tepatnya 20 juta barel—dikirim dalam satu hari pada 19 Juni. Angka ini menunjukkan akselerasi tajam setelah berminggu-minggu gangguan berat di sekitar selat tersebut.
Pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz tidak lepas dari kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran keamanan, memungkinkan lebih banyak kapal kembali melintas di Teluk Persia. Data dari Kpler, penyedia data maritim, mengonfirmasi bahwa pada 23 Juni tercatat 31 penyeberangan kapal komersial dan energi yang terverifikasi. Rute dari barat ke timur mendominasi, sementara jalur Iran, Oman, dan Organisasi Maritim Internasional tetap aktif.
Kpler menambahkan bahwa Selat Hormuz tampak beroperasi normal di bawah nota kesepahaman AS-Iran, meskipun aktivitas jalur gelap dan ketidakpastian di luar jangka waktu 60 hari masih membuat pemulihan berlangsung hati-hati. Lonjakan pergerakan kapal juga meluas ke gas alam cair (LNG). Lebih banyak kapal tanker LNG kosong telah transit melalui Hormuz untuk mengambil kargo, termasuk satu kapal pengangkut asal China, sementara setidaknya delapan tanker yang terkait dengan Qatar memasuki Teluk Persia dalam sepekan terakhir.
Qatar dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga bergegas meningkatkan ekspor setelah kesepakatan sementara, yang mengurangi risiko langsung terhadap pengiriman energi Teluk. Bagi Indonesia, tren ini menjadi angin segar di tengah tekanan subsidi energi. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi bahan bakar minyak dan listrik. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena pemulihan pasokan masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan durasi kesepakatan AS-Iran yang hanya 60 hari.
Para analis menilai bahwa premi risiko geopolitik yang sebelumnya menyumbang 10-15 dolar AS per barel kini mulai terkikis. Namun, mereka memperingatkan bahwa jika kesepakatan damai tidak diperpanjang atau terjadi eskalasi baru, harga minyak bisa kembali meroket. "Pasar saat ini sedang menghargai skenario normalisasi pasokan, tetapi kerentanan Selat Hormuz tidak pernah benar-benar hilang," ujar seorang analis energi yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara OPEC+ akan merespons lonjakan pasokan ini dengan memangkas kuota produksi, atau justru membiarkan harga terus tertekan demi merebut pangsa pasar. Bagi konsumen energi di Indonesia, penurunan harga minyak saat ini memberikan ruang fiskal, tetapi stabilitas jangka panjang masih bergantung pada dinamika politik di Timur Tengah.



