Jannik Sinner Siap Bangkit di Wimbledon Usai Kejutan di Roland Garros
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner akan memulai pertahanan gelar Wimbledon setelah kekalahan mengejutkan di babak kedua Prancis Terbuka.
- Kekalahan itu mengakhiri 30 kemenangan beruntun Sinner, namun ia tetap difavoritkan juara berkat dominasi di lapangan rumput dan rekor head-to-head unggul.
- Sinner telah melakukan penyesuaian latihan, termasuk penggunaan rompi es, untuk mengatasi masalah fisik yang muncul di Paris.

Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia asal Italia, siap memulai pertahanan gelar Wimbledon pada Senin (30/6) setelah mengalami salah satu kekalahan paling mengejutkan di Prancis Terbuka bulan lalu. Meski tersingkir di babak kedua Roland Garros meski unggul dua set dan 5-1 di set ketiga, Sinner tetap menjadi favorit utama di All England Club berkat performa dominannya sepanjang musim.
Kekalahan dari Juan Manuel Cerundolo itu mengakhiri rentetan 30 kemenangan beruntun Sinner dan menggagalkan ambisinya menjadi pemain termuda kedua yang meraih Grand Slam karier. Namun, petenis berusia 24 tahun itu menunjukkan ketangguhan mental dengan bangkit dari situasi serupa tahun lalu, ketika ia berhasil memenangkan Wimbledon setelah kalah dramatis di final Prancis Terbuka 2024 dari Carlos Alcaraz.
“Anda tidak bisa mensimulasikan 100 persen apa yang Anda rasakan dalam pertandingan karena ketegangan dan segala hal di sekitarnya,” ujar Sinner dalam konferensi pers pra-turnamen. “Kami melakukan beberapa perubahan, bukan perubahan besar. Tapi saya selalu percaya pada detail kecil. Hasilnya tidak akan terlihat di sini. Ini proses panjang, tidak ada keajaiban di baliknya.”
Setelah tampak kelelahan fisik di Paris, Sinner terlihat berlatih dengan rompi es di Wimbledon. Ia mengaku hasil tes kesehatan setelah Prancis Terbuka menunjukkan hasil “sangat baik”, meski mengakui tidak ada solusi instan untuk masalah tersebut. Langkah antisipatif ini menunjukkan keseriusannya dalam menjaga performa puncak.
Dominasi Sinner di ATP Tour sepanjang 2025 tak terbantahkan. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah yang memimpin tur dalam persentase game servis (92%) dan game return (32,6%) dalam satu musim, dan kembali memimpin kedua kategori tahun ini. Gaya bermain agresif dari baseline, ditunjang servis dan return terbaik, membuatnya sulit dikalahkan di semua permukaan.
Di Wimbledon, Sinner akan memulai laga perdana melawan Miomir Kecmanovic. Tanpa kehadiran Alcaraz yang cedera, lawan terberatnya diprediksi adalah Novak Djokovic (kemungkinan semifinal) dan Daniil Medvedev (di perempat final). Djokovic unggul 2-1 dalam pertemuan di rumput, sementara Medvedev pernah mengalahkan Sinner di Wimbledon dua tahun lalu. Namun, Sinner unggul head-to-head keseluruhan melawan keduanya.
Ketangguhan mental Sinner diakui oleh sesama petenis. Kompatriotnya, Matteo Berrettini, memuji dedikasinya untuk terus berkembang. “Dia menaikkan level begitu tinggi dan selalu mencari solusi untuk menjadi lebih baik. Ini tidak mudah ditemukan, terutama ketika Anda sudah berada di level itu,” kata Berrettini. “Mengubah permainannya—servis, lebih banyak menggunakan drop shot, membuatnya lebih tidak terduga—menunjukkan pola pikirnya. Itu salah satu kekuatannya.”
Pelatih masa kecil Sinner, Andreas Schonegger, mengingatkan bahwa sejak usia empat tahun, Sinner sudah menunjukkan obsesi luar biasa terhadap tenis. “Di akhir setiap pelajaran, dia tidak mau berhenti. Dia ingin terus bermain satu jam lagi. Pada usia empat tahun, itu pikiran yang luar biasa,” kenang Schonegger.
Dengan rekor impresif di rumput dan kemampuan beradaptasi yang terus diasah, Sinner berada di jalur tepat untuk mempertahankan mahkota Wimbledon. Pertanyaannya, mampukah ia mengulang kisah comeback tahun lalu dan menjawab keraguan yang muncul setelah kejutan di Paris?



