Djokovic Loloskan Diri dari Ujian Berat Wu Yibing di Putaran Pertama Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menang 6-4, 5-7, 6-4, 6-4 atas Wu Yibing dalam laga sengit yang berlangsung 3 jam 12 menit.
- Petenis Serbia itu mengaku tidak dalam kondisi terbaik setelah absen lama sejak Prancis Terbuka, namun tetap mempertahankan rekor tak terkalahkan di putaran pertama Wimbledon.
- Kemenangan ini membawanya ke babak kedua melawan Stefanos Tsitsipas, rival yang pernah ia kalahkan di final Grand Slam.

Novak Djokovic harus bekerja keras untuk melewati hadangan petenis China, Wu Yibing, pada laga perdana Wimbledon 2025 di Centre Court, Selasa (1/7) malam. Unggulan ketujuh itu menang 6-4, 5-7, 6-4, 6-4 dalam pertarungan selama tiga jam 12 menit yang penuh tekanan.
Bagi Djokovic, ini adalah ujian berat di awal turnamen. Ia belum pernah kalah di putaran pertama Wimbledon dalam 21 penampilan, namun Wu Yibing memberinya perlawanan sengit. "Hari ini benar-benar menantang bagi saya," ujar Djokovic usai pertandingan. "Saya senang, tapi tidak dalam kondisi paling segar. Jujur, ini tidak terasa seperti laga putaran pertama."
Djokovic, yang berusia 39 tahun, masih memburu rekor gelar Grand Slam ke-25. Saat ini ia sejajar dengan Margaret Court dengan 24 trofi mayor. Namun, jalan menuju rekor tersebut tidak mudah. Ia baru pulih dari kekalahan di babak ketiga Prancis Terbuka dari remaja Brasil Joao Fonseca, dan jeda kompetisi itu tampak mempengaruhi ritmenya.
Pertandingan berlangsung di bawah atap Centre Court yang tertutup, menciptakan atmosfer riuh. Djokovic sempat frustrasi dan menunjukkan gestur tidak puas, namun ia juga menikmati dukungan penonton. Bahkan, ia meminta sorakan lebih keras setelah merebut set ketiga. Sebaliknya, Wu mendapat sambutan meriah dengan teriakan panjang namanya, mirip yang diterima Holger Rune tahun lalu.
Wu, yang sebelumnya jarang diperhitungkan, tampil tanpa rasa takut. Ia mematahkan servis Djokovic di set kedua dan terus memberikan tekanan. "Dia mengejutkan saya dengan level setiap pukulannyaโdari servis, forehand, hingga backhand. Di beberapa titik, dia tidak memiliki kelemahan," puji Djokovic.
Legenda tenis John McEnroe, yang menjadi komentator BBC, memuji semangat Djokovic. "Anda harus mencintai apa yang dilakukan Djokovic. Dia membawa api, intensitas, hasrat, dan cinta pada olahraga ini. Saya sudah melihatnya ratusan kali, dan Anda masih berpikir, 'wow, orang ini masih menginginkannya sebesar ini'," kata McEnroe.
Bagi penggemar tenis Indonesia, laga ini mengingatkan pada pentingnya konsistensi dan mental juara. Djokovic, meski tidak dalam performa puncak, mampu mengatasi tekanan dan memenangkan poin-poin kritis. Ini menjadi pelajaran bahwa pengalaman dan ketenangan di momen genting sering kali menjadi pembeda.
Di babak kedua, Djokovic akan berhadapan dengan Stefanos Tsitsipas, petenis Yunani yang pernah ia kalahkan di final Prancis Terbuka 2021 dan Australia Terbuka 2023. Tsitsipas sendiri baru saja melewati laga lima set melawan lawan yang tangguh. Pertemuan ini diprediksi akan menjadi ujian berikutnya bagi ambisi Djokovic menuju rekor 25 gelar Grand Slam.
Pertanyaannya, akankah Djokovic mampu mempertahankan performa dan kembali ke puncak? Atau justru regenerasi seperti Wu Yibing mulai mengancam dominasinya? Wimbledon tahun ini mungkin akan memberikan jawaban.



