FIGC Bidik Boniek sebagai Alternatif Direktur Teknis Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Zbigniew Boniek, mantan bintang Juventus dan eks wakil presiden UEFA, masuk dalam daftar kandidat direktur teknis FIGC.
- Paolo Maldini masih menjadi favorit utama, namun negosiasi dengan mantan direktur AC Milan itu belum membuahkan hasil.
- FIGC ingin mengisi pos direktur teknis sebelum menentukan pelatih kepala baru, dengan Antonio Conte dan Roberto Mancini sebagai kandidat utama.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mulai melirik nama-nama alternatif untuk mengisi posisi direktur teknis yang masih kosong. Setelah beberapa pekan dikaitkan dengan Paolo Maldini, kini muncul kandidat baru: Zbigniew Boniek, mantan penyerang Juventus dan Roma yang juga pernah menjabat wakil presiden UEFA.
Kursi direktur teknis menjadi prioritas FIGC di bawah kepemimpinan presiden baru Giovanni Malagò. Ia ditugaskan merombak struktur tim nasional Italia setelah kepergian pelatih Gennaro Gattuso dan kepala delegasi Gianluigi Buffon awal tahun ini. Menurut laporan Corriere dello Sport, Boniek masuk dalam daftar alternatif jika negosiasi dengan Maldini gagal mencapai kesepakatan.
Nama Boniek mengejutkan banyak pihak karena ia bukan mantan pemain timnas Italia. Namun, pengalamannya sebagai administrator sepak bola—memimpin federasi Polandia dan duduk di jajaran eksekutif UEFA—menjadi nilai tambah. Ia juga pernah melatih klub-klub Italia seperti Lecce, Bari, dan Avellino, sehingga memahami sepak bola Italia dari dalam.
FIGC disebut ingin mengisi pos direktur teknis sebelum memutuskan pelatih kepala baru. Antonio Conte dan Roberto Mancini masih menjadi kandidat terdepan untuk kursi pelatih. Langkah ini menunjukkan bahwa FIGC ingin membangun hierarki yang jelas, di mana direktur teknis akan merancang filosofi jangka panjang timnas, sementara pelatih fokus pada taktik pertandingan.
Bagi Indonesia, perombakan struktural di FIGC bisa menjadi pelajaran. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) juga tengah berupaya memperkuat timnas dengan merekrut pelatih asing dan naturalisasi pemain. Namun, tanpa figur direktur teknis yang kuat, program jangka panjang seringkali tumpang tindih dengan kepentingan sesaat. Model FIGC yang memisahkan peran direktur teknis dan pelatih kepala bisa menjadi referensi bagi PSSI untuk membangun fondasi yang lebih stabil.
Boniek sendiri menganggur sejak mundur dari UEFA pada April 2025. Keputusannya untuk kembali ke Italia, jika terwujud, akan menambah warna baru dalam sepak bola Italia. Namun, pertanyaan besarnya: akankah FIGC berani memilih figur non-Italia untuk posisi kunci ini, atau tetap setia pada tradisi mengutamakan legenda lokal seperti Maldini?



