Kemhan Buka Suara: Calon Manajer Koperasi Desa Wajib Latsarmil Demi Disiplin dan Ketahanan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertahanan menyatakan latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Merah Putih bertujuan membentuk karakter dan disiplin, bukan untuk menjadikan mereka prajurit.
- Pelatihan semi-militer ini dinilai penting karena para manajer akan mengelola dana masyarakat dan menjadi pilar ekonomi desa yang terkait ketahanan nasional.
- Kemhan berjanji mengevaluasi materi latihan setelah adanya peserta yang meninggal, dengan penyesuaian kondisi individu.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) akhirnya membeberkan alasan di balik kewajiban latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Langkah ini disebut sebagai upaya membentuk mental baja dan disiplin tinggi, bukan sekadar menambah beban fisik.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa latsarmil dirancang untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, integritas, dan kemampuan bekerja di bawah tekanan. "Latihan bela negara dan manajerial ini diarahkan untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama, tanggung jawab, profesionalisme, kemampuan bekerja dalam tekanan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat," ujar Ketut di kantor Kemhan, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).
Menurutnya, para calon manajer kelak akan mengelola perputaran uang rakyat melalui koperasi. Oleh karena itu, mereka harus memiliki fondasi mental yang kokoh agar tidak mudah tergoda korupsi atau salah kelola. "Ekonomi rakyat yang kuat merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, pembentukan calon pengelola koperasi yang berkarakter, berintegritas, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan menjadi bagian penting," tegasnya.
Ketut menegaskan bahwa kegiatan fisik dan semi-militer dalam latsarmil bukan untuk menjadikan para pengelola koperasi sebagai prajurit. "Penekanannya bukan pada kemampuan fisik, melainkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah," katanya. Pernyataan ini sekaligus menjawab kritik publik yang menilai latihan tersebut terlalu berat dan tidak relevan dengan tugas manajerial.
Namun, kebijakan ini menuai sorotan setelah adanya peserta yang meninggal dunia selama kegiatan latsarmil. Menanggapi hal itu, Ketut mengaku akan melakukan evaluasi menyeluruh. "Kami akan melakukan langkah pencegahan untuk memastikan materi pelatihan disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta," ujarnya. Kemhan berjanji akan meninjau kembali aspek keselamatan dan beban latihan agar kejadian serupa tidak terulang.
Ke depan, efektivitas program ini akan diuji oleh hasil nyata di lapangan: apakah koperasi desa benar-benar dikelola lebih profesional dan bersih. Pertanyaan yang mengemuka, apakah pendekatan militeristik tepat untuk membangun jiwa kewirausahaan dan manajemen modern di pedesaan, atau justru menimbulkan resistensi dan risiko keselamatan yang tidak perlu.



