Nelly Korda Kejar Hattrick Major, Tertinggal Enam Pukulan di Women's PGA Championship
Baca dalam 60 detik
- Pegolf nomor satu dunia Nelly Korda tertinggal enam pukulan dari pemimpin klasemen Ina Yoon setelah putaran kedua Women's PGA Championship.
- Korda sudah mengoleksi dua gelar mayor musim ini (Chevron Championship dan US Open) dan berpeluang mencetak hattrick bersejarah.
- Ina Yoon, yang belum pernah menjuarai major, memimpin dengan keunggulan lima pukulan menjelang akhir pekan, namun tekanan mulai terasa.

Nelly Korda, pegolf putri nomor satu dunia, harus mengejar ketertinggalan enam pukulan dari pemimpin klasemen Ina Yoon di tengah gelaran Women's PGA Championship, turnamen yang menjadi ajang pembuktian ambisinya meraih gelar major ketiga secara beruntun musim ini.
Korda, yang telah memenangkan Chevron Championship dan US Open pada 2024, mencatatkan skor empat-under 68 pada putaran kedua di Hazeltine National Golf Club. Ia sukses membuat empat birdie di sembilan hole pertama, lalu menutup dengan enam par beruntun. Performa ini menempatkannya di posisi enam-under, enam pukulan di belakang Yoon yang memimpin dengan skor 12-under.
Yoon, pegolf asal Korea Selatan yang belum pernah memenangkan turnamen major, tampil gemilang dengan skor 69 setelah membuka turnamen dengan 63 pukulan (sembilan-under). Keunggulannya kini lima pukulan dari kelompok pengejar yang terdiri dari Brooke Henderson (Kanada), Nasa Hataoka (Jepang), dan dua pegolf Korea lainnya, Haeran Ryu serta A-Lim Kim.
Menjelang akhir pekan, Korda mengakui bahwa memimpin dengan selisih besar justru membawa tekanan tersendiri. "Sulit mempertahankan keunggulan besar saat memasuki akhir pekan," ujar Korda, yang pernah mengalami situasi serupa saat menjuarai Chevron Championship. "Saya akan fokus pada satu pukulan demi satu pukulan, meskipun terdengar membosankan."
Yoon, di sisi lain, menyadari bahwa dua hari ke depan akan menegangkan. "Gugup adalah sifat manusia, saya akan merangkulnya dan fokus pada apa yang bisa saya kendalikan dalam setiap pukulan," katanya. Dengan keunggulan lima pukulan, Yoon berada dalam posisi nyaman, tetapi sejarah menunjukkan bahwa keunggulan besar bisa sirna dalam sekejap di turnamen major.
Bagi penggemar golf di Indonesia, dominasi Korda musim ini menjadi tontonan menarik. Meski belum ada pegolf Indonesia yang berlaga di turnamen ini, prestasi Korda menginspirasi banyak atlet muda, terutama dalam hal konsistensi dan mental juara. Turnamen dengan total hadiah terbesar dalam sejarah golf putri juga menandai semakin profesionalnya olahraga ini secara global, termasuk potensi pasar di Asia Tenggara.
Dengan dua putaran tersisa, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Korda mengejar ketertinggalan dan mencatatkan hattrick major, atau justru Yoon yang akan meraih gelar major pertamanya? Jawabannya akan diketahui pada akhir pekan ini.



