Cerebras Terpeleset 9%: Pendapatan Cloud Melonjak, tapi Chip AI Gagal Geser Nvidia
Baca dalam 60 detik
- Saham Cerebras jatuh lebih dari 9% setelah laporan keuangan kuartal II menunjukkan pendapatan cloud melonjak empat kali lipat, namun penjualan chip AI justru menyusut, memicu keraguan atas kemampuan perusahaan menantang dominasi Nvidia.
- Margin kotor disesuaikan turun ke 40,6% dari 46,5% kuartal sebelumnya, sementara pendapatan total gagal memenuhi estimasi analis meski proyeksi tahunan dinaikkan, menandakan tekanan biaya ekspansi infrastruktur.
- Koreksi harga saham Cerebras dan Cisco mencerminkan pasar mulai mempertanyakan valuasi tinggi perusahaan AI di tengah belanja modal raksasa teknologi yang diperkirakan menembus US$740 miliar tahun ini.

Saham Cerebras Systems ambles lebih dari 9% pada perdagangan awal Kamis (13/8) setelah laporan keuangan kuartal kedua gagal memenuhi ekspektasi pasar, meskipun pendapatan dari bisnis cloud-nya melonjak tajam. Kondisi ini langsung memicu pertanyaan besar: apakah chip AI buatan perusahaan yang berbasis di Sunnyvale, California itu benar-benar mampu menggoyang hegemoni Nvidia di tengah gelombang belanja infrastruktur kecerdasan buatan yang sedang membuncah?
Ini adalah laporan laba kedua Cerebras sejak melantai di bursa. Hasilnya memberi gambaran yang kontras: di satu sisi, pendapatan cloud-nya meroket hampir empat kali lipat menjadi US$126 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun di sisi lain, penjualan perangkat kerasโtermasuk chip AIโjustru turun menjadi US$54,1 juta dari sebelumnya US$70,3 juta. Perpaduan ini menunjukkan pergeseran model bisnis yang tidak sepenuhnya mulus di mata investor.
Margin laba kotor disesuaikan pada kuartal kedua juga terkikis, dari 46,5% menjadi 40,6%. Pendapatan total meleset dari perkiraan analis, meskipun manajemen menaikkan panduan pendapatan untuk tahun penuh. Kombinasi ini membuat pasar gelisah, terutama karena saham Cerebras sebelumnya sempat melesat 41% dari harga IPO US$185, didorong narasi sebagai penantang serius Nvidia.
Analis Morgan Stanley menilai bahwa kunci perdebatan kini terletak pada eksekusi. "Eksekusi tetap menjadi isu utama mengingat skala dan kecepatan pembangunan kapasitas yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan," tulis mereka dalam catatan riset. Sementara itu, Citi dan Mizuho memangkas target harga saham Cerebras, meski target median dari estimasi LSEG masih mengindikasikan potensi kenaikan 15% dari harga penutupan sebelumnya.
Koreksi serupa juga menimpa Cisco Systems, yang sahamnya jatuh sekitar 8% setelah panduan pendapatannya dianggap tidak seagresif ekspektasi pasar. Padahal, Cisco telah menjadi salah satu pemain yang diuntungkan oleh pembangunan pusat data AI, dengan kenaikan saham lebih dari 60% tahun ini. Perusahaan menargetkan pendapatan US$7,5 miliar dari pesanan infrastruktur AI dari hyperscaler pada tahun fiskal 2027.
Bagi pasar Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat bahwa euforia AI global tidak selalu berbanding lurus dengan fundamental perusahaan. Investor lokal yang terpapar melalui reksa dana saham global atau ETF teknologi perlu mencermati bahwa valuasi tinggi perusahaan AI rentan terhadap koreksi ketika pertumbuhan pendapatan tidak diimbangi profitabilitas. Di sisi lain, meningkatnya belanja infrastruktur AI oleh raksasa teknologi tetap menjadi peluang bagi negara-negara produsen komponen dan penyedia pusat data, termasuk Indonesia yang tengah gencar menarik investasi di sektor ini.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Cerebras mampu membalikkan penurunan penjualan chip-nya dan meningkatkan margin di tengah persaingan ketat dengan Nvidia. Jika tidak, narasi "penantang Nvidia" bisa semakin pudar, dan pasar akan semakin selektif dalam menilai prospek perusahaan AI. Akankah Cerebras mampu membuktikan diri sebagai pemain jangka panjang, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah perlombaan AI?



